Berita

Donald Trump/Net

Dunia

Komite Senat Mempertanyakan Otoritas Nuklir Trump

RABU, 15 NOVEMBER 2017 | 10:14 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun terakhir, Kongres telah memeriksa otoritas presiden Amerika Serikat untuk meluncurkan serangan nuklir.

Kongres melakukan pemeriksaan tersebut dalam Sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat berjudul Authority to Order the Use of Nuclear Weapons.

Beberapa senator menyatakan keprihatinannya bahwa presiden mungkin secara tidak bertanggung jawab memerintahkan serangan nuklir.


Terakhir kali Kongres memperdebatkan masalah ini adalah pada bulan Maret 1976.

Senator Ben Cardin memberi nada pada sidang umum yang digelar Selasa pagi waktu setempat (14/11) di Capitol Hill.

"Ini bukan diskusi hipotetis," kata Demokrat Maryland tersebut.

Beberapa senator yang hadir mengatakan bahwa mereka khawatir dengan kemungkinan langkah yang bisa diambil presiden untuk melakukan serangan nuklir.

"Kami khawatir bahwa presiden sangat tidak stabil, sangat tidak stabil, memiliki proses pengambilan keputusan yang sangat tidak biasa, sehingga dia dapat memerintahkan pemogokan senjata nuklir yang secara liar keluar dari selangkah dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat," kata Chris Murphy, seorang Demokrat dari Connecticut.

Salah seorang ahli, C Robert Kehler, yang merupakan komandan Komando Strategis AS dari tahun 2011 hingga 2013 mengatakan bahwa dalam peran sebelumnya dia akan mengikuti perintah presiden untuk melakukan serangan jika itu legal.

Dia mengatakan jika dia tidak yakin akan legalitasnya, maka ia akan berkonsultasi dengan penasihatnya sendiri. Dalam keadaan tertentu, dia menjelaskan: "Saya akan mengatakan, 'Saya tidak siap untuk melanjutkan.'"

Pakar lain, Peter Feaver dari Duke University, seorang profesor ilmu politik, menjelaskan bahwa sebuah perintah kepresidenan mewajibkan personil di semua tingkat untuk menandatangani kontrak di sana.
Itu akan diperiksa oleh pengacara, juga oleh sekretaris pertahanan dan individu yang bertugas di militer.

"Presiden tidak bisa sendiri menekan tombol dan menyebabkan rudal terbang," kata Prof Feaver seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya