Pemilu di 18 negara berbeda di dunia sepanjang tahun lalu dipengaruhi oleh disinformasi kampanye online.
Menurut data yang dirilis oleh pengawas independen Freedom House pekan ini, wacana online di negara-negara yang menjalani pemilu sepanjang tahun lalu dipengaruhi oleh pemerintah, bot dan pembentuk opini berbayar.
Secara total, 30 pemerintah secara aktif terlibat dalam penggunaan media sosial untuk menahan pembangkangan. Laporan tahunan tersebut mempelajari keadaan kebebasan internet di 65 negara yang mencakup sekitar 87 persen populasi pengguna internet dunia.
Dalam laporan disebutkan bahwa disinformasi online mencakup adanya bot otomatis yang menggemakan pesan resmi, pasukan komentator berbayar yang mengobarkan diskusi dengan pandangan pro-pemerintah, serta banyaknya situs berita palsu yang menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Teknik-teknik tersebut digunakan bersamaan dengan kontrol teknis yang lebih ketat seperti filter konten dan blok pada alat teknis seperti jaringan pribadi virtual. Manipulasi media sosial juga dilakukan sebagai alat kunci bagi rezim represif.
"Tidak hanya manipulasi ini yang sulit dideteksi, lebih sulit untuk melawan daripada jenis penyensoran lainnya, seperti pemblokiran situs web, karena penyebarannya dan karena banyaknya orang dan bot yang ditugaskan untuk melakukannya," kata Sanja Kelly, kepala proyek penelitian Freedom on the Net seperti dimuat
BBC.
[mel]