Berita

Foto: Net

Global

Militer Myanmar "Bersihkan Diri" Dari Semua Tuduhan Atas Krisis Rohingya

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 | 06:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tentara Myanmar merilis hasil penyelidikan internal yang membantah semua tuduhan kekerasan yang memicu terjadinya krisis Rohingya.

Dalam sebuah pernyataan pihak militer Myanmar yang diposting di Facebook, mereka mengklaim telah mewawancarai ribuan penduduk desa yang mendukung bantahan atas terjadinya kekerasan oleh militer terhadap etnis Rohingya.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa penduduk desa sepakat bahwa pasukan keamanan tidak menembak penduduk desa yang tidak bersalah, tidak melakukan kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap perempuan, tidak menangkap, memukul dan membunuh penduduk desa, tidak mencuri perak, emas, kendaraan atau binatang dari penduduk desa, tidak membakar masjid, tidak mengancam, menggertak dan mengusir penduduk desa, serta tidak membakar rumah.


Pihak militer Myanmar justru mengklaim bahwa semua tindakan kekerasan tersebut dilakukan oleh "teroris" dari dalam kelompok Rohingya itu sendiri. Militer Myanmar pun mengklaim bahwa ratusan ribu orang yang melarikan diri melakukannya karena mereka diinstruksikan untuk melakukannya dan mengkhawatirkan para teroris.

Menanggapi laporan tersebut, Amnesty International mengatakan bahwa laporan tentara tersebut merupakan upaya untuk mengaburkan fakta. Organisasi hak asasi tersebut manusia meminta pencari fakta PBB untuk diizinkan masuk ke wilayah tersebut dan mencari tahu kejadian yang sesungguhnya.

Sejauh ini, akses media ke daerah Rakhine Myanmar di mana kekerasan terjadi juga diketahui sangat dibatasi. Perjalanan yang diizinkan pun dikontrol ketat.

Krisis Rohingya menjadi sorotan karena lebih dari setengah juta orang minoritas minoritas Rohingya tanpa kewarganegaraan telah melarikan diri dari Myanmar sejak Agustus kemarin karena kekeraan yang terus meningkat yang dilakukan oleh militer Myanmar. Demikian seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya