Maroko memperingati 42 tahun Green March awal pekan ini. Green March sendiri merupakan demonstrasi besar-besaran yang dikoordinasikan oleh pemerintah Moroko untuk memaksa Spanyol memberikan provinsi Sahara yang diperselisihkan kepada Maroko pada November 1975.
Raja Maroko, Raja Mohammed V dalam pidatonya mengatakan bahwa dalam beberapa minggu mendatang, warga Maroko juga akan memperingati 60 tahun piadto yang diampaikan oleh M'hamid al-Ghizlan. Menurutnya, ada kesamaan antara dua kejadian tersebut yang bisa ditarik garis merahnya.
"Kesamaan kedua kejadian ini adalah perjanjian yang tak tergoyahkan yang mengikat Arasy dan orang-orang bersama-sama ketika menyangkut integritas teritorial bangsa, terutama yang berkaitan dengan Sahara Maroko," jelas Raja Mohammed V.
Pidato bersejarah di M'hamid al-Ghizlan, jelasnya, sangat penting karena selain tonggak sejarah, namun juga menegaskan integritas teritorial dan komitmen rakyat Maroko terhadap tanah mereka. Pidato tersebut dibuat bahkan sebelum pertanyaan tentang Sahara diajukan di PBB pada tahun 1963. Pada saat tidak ada klaim yang diajukan mengenai pembebasan Sahara, kecuali tuntutan sah Maroko dan bahkan, pidati disampaikan sebelum Aljazair merdeka.
"Sebelum hal-hal di atas terjadi, kakek saya telah menegaskan kembali hak-hak historis dan legal Maroko sehubungan dengan Sahara, saat dia dengan sungguh-sungguh dan terbuka mengumumkan kepada wakil-wakil syekh suku Sahrawi, yang telah bersumpah setia kepadanya, bahwa dia akan terus bekerja untuk memulihkan Sahara, sesuai dengan hak historis Maroko dan sesuai dengan kehendak penghuni daerah," sambungnya seperti keterangan yang diterima redaksi.
Semangat yang sama, sambungnya, juga dibawa oleh Raja Hassan II yang merupakan ayah dari Raja Mohammed V. Ia dengan cepat dan tepat merancang Green March untuk memulihkan Sahara.
"Mengikuti jejak kakek dan ayah saya, dengan tanah yang telah dibebaskan, saya terus menegakkan komitmen yang sama untuk memastikan warga di wilayah-wilayah tersebut dihormati, mempromosikan pembangunan di wilayah ini, membebaskan saudara dan saudari kita di kamp dan memastikan wilayah-wilayah tersebut sepenuhnya terintegrasi ke dalam tanah air," jelas Raja Mohammed V.
[mel]