Berita

Wapres Jusuf Kalla/Net

Politik

JK: Sekarang Jauh Lebih Baik

Bicara Prospek Ekonomi Di Acara PWI
JUMAT, 03 NOVEMBER 2017 | 10:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bagaimana prospek ekonomi tahun depan? Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), kemarin pagi, menggelar acara diskusi membahas tema tersebut. Wapres Jusuf Kalla jadi pembicara utamanya. Apa prediksinya? Saudagar berdarah Bugis ini memprediksi ekonomi tahun depan akan membaik meski sudah memasuki tahun politik. Indikasinya, ada stabilitas politik, peningkatan harga komoditas dan membaiknya peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia.
 
Acara diskusi ini dikemas dalam acara breakfast meeting. Temanya "Prospek Ekonomi Indonesia 2018". Digelar di Mezzanine Ballroom Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. Acara dimulai sekitar pukul 8 pagi dan selesai lewat tengah hari. Sejam sebelum acara dimulai, para peserta sudah berkerumun di depan ballroom. Saat acara dimulai, peserta bertambah banyak. Panitia harus menambah kursi tambahan untuk menyediakan tempat duduk peserta.

JK baru tiba di lokasi sekitar pukul 10 pagi dan disambut Ketua Umum PWI Pusat Margiono. Setelah itu, Margiono menyampaikan pidato sambutan, singkat. Hanya tiga menitan. Isinya serius tapi santai yang membuat JK dan hadirin tersenyum.


Margiono bilang, dalam forum tersebut hadir lebih 200 peserta yang berasal dari sejumlah kalangan yaitu pengusaha, pakar ekonomi dan dari lingkungan pers seperti pemilik media, para pemimpin redaksi serta para ketua PWI di seluruh Indonesia. Peserta memang sangat antusias. Bahkan, saat pertama kali mengumumkan akan menggelar acara ersebut, banyak yang langsung mendaftar. Khawatir tempatnya tidak cukup, panita lantas mengusulkan memungut biaya. Dengan begitu, harapannya, peserta akan berkurang.

"Kemudian saya bilang musibah kalau sampai memungut biaya. Tapi kemudian usulan itu dibatalkan," kata Margiono.

Kenapa ingin memungut biaya? Margiono bilang, bukan karena sponsornya yang kurang. Sponsor sangat banyak. Saat tahu Wapres akan hadir, ada banyak BUMN, BUMD dan swasta yang mau membantu PWI. Sebagian dana tersebut kemudian digunakan untuk uji kompetensi wartawan. Saat ini sudah seribu wartawan yang sudah bersertifikat.

Margiono melanjutkan, ada alasan lain kenapa peserta yang hadir begitu banyak. Kata dia, karena mereka mengetahui Wapres akan datang. Mereka ingin mengetahui informasi yang benar soal perekonomian saat ini. Informasi memang begitu banyak tersebar tapi sulit membedakan mana yang akurat dan yang hoax.

"Kalau Bapak yang berbicara, sudah diyakini tidak mungkin menyebarkan hoax," ujarnya. Margiono pun kembali mengucapkan terimakasih karena JK sudah hadir untuk memberikan pencerahan.

Lantas apa yang disampaikan JK? Bagaimana prospek ekonomi tahun depan? JK bilang, secara umum ekonomi Indonesia selalu berada di tengah-tengah. Hanya pas tahun 98 saja, ekonomi Indonesia ambruk. Setelah itu ekonomi selalu berada di tengah-tengah. Tidak melejit, tapi juga tidak ambruk. Termasuk saat menghadapi krisis 2008.

Melihat sejarah itu, JK optimis pertumbuhan ekonomi tahun depan akan membaik. Apalagi ada sejumlah faktor yang mendukung. Pertama, situasi dunia yang sudah lebih baik. Walaupun ada satu-dua masalah seperti krisis Timur Tengah, konflik Korea Utara dan kebijakan Donald Trump. Tapi secara umum ekonomi dunia relatif membaik.

Kedua, stabilitas politik dalam negeri yang terjaga. JK bilang, Indonesia ini punya sistem politik yang khas. Perselisihan ketika Pemilu usai begitu Pemilu selesai. Tidak ada oposisi permanen seperti halnya di Thailand atau Malaysia yang partainya gontokan terus-terusan. Di Indonesia, malah bisa terjadi partai yang dulu berselisih bisa bergabung dalam koalisi tambahan. Partai tidak berhadapan secara permanen. Di satu Pilkada berhadapan, tapi di Pilkada lain bisa berkoalisi.

Karena itu, JK yakin Pilkada serentak 2018 akan berjalan aman. Karena tidak ada sejarahnya Pilkada tidak aman. Sepanjang pemerintahan Jokowi-JK tercatat hanya ada dua yang terjadi kerusuhan yaitu di Tolikara pada 2016, dan kerusuhan di Kemendagri bulan lalu. "Artinya, pada umumnya kita ini bersatu. Setiap ada konflik selalu bisa diatasi," katanya.

Begitu pun memasuki tahun politik yang kata orang akan memanas. JK bilang tidak begitu. Hangat politik hanya di pembicaraan, tidak di lapangan. "Riuh rendah itu juga karena Anda semua. Perlu berita, karena kalau dingin-dingin kan tidak menarik," ungkapnya yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Ketiga, sudah mulai meningkatnya harga sejumlah komoditas. Harga batubara sudah mendekati harga saat lima tahun lalu. Begitu juga sawit yang pernah jatuh sudah perlahan bangkit. Meski tak terlalu siginifikan, harga minyak dunia pun sudah kembali di level 50 dolar AS per barel. Dengan meningkatnya harga tersebut, artinya penerimaan sektor pajak menjadi lebih baik. Dan yang terakhir dan cukup membanggakan, peringkat indeks kemudahan berusaha yang terus naik. Tahun ini indeks kemudahan berusaha sudah di peringkat 72 dari yang sebelumnya di posisi 91 dan sebelumnya lagi di angka seratusan.

JK melanjutkan, tentu ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, birokrasi yang dianggap lambat, terutama karena takut mengambil keputusan. Penyelesaian pembebasan lahan yang terhambat, termasuk diskusi pelemahan daya beli. Menghadapi itu, JK menekankan sejumlah hal. Agar meningkatkan produktivitas, penggunaan teknologi dan memacu industri agar terus tumbuh baik dari dalam dan luar negeri.

Terakhir, JK mewanti-wanti soal konsistensi investasi. Ada anggapan yang berkembang, jika suatu negara banyak menanamkam modal artinya sedang menjajah. Padahal, uang itu tidak mempunyai kewarganegaraan. Artinya, jangan terlalu cepat menasionalisasi perusahaan asing. Jangan kalau perusahaan asing sudah untung lalu disuruh pulang. Dia mencontohkan Venezuela akhirnya menjadi negara yang bangkrut luar biasa karena terlalu cepat menasionalisasi perusahaan asing. Padahal negara tersebut kaya luar biasa. Cadangan minyaknya lebih besar dari Arab Saudi. Tapi kini, menjadi miskin. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya