Berita

Adrianus Meliala/Net

Wawancara

WAWANCARA

Adrianus Meliala: Fenomena Pungli Semacam Puncak Gunung Es Di Laut Saja, Sekarang Tinggal Tindaklanjutnya

JUMAT, 03 NOVEMBER 2017 | 10:06 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penertiban pedagang kaki lima (PKL) disejumlah titik Ibu Kota Jakarta menjadi perhatian serius Ombudsman Republik Indonesia (ORI). Investigasi pun dilakukan untuk mengetahui apakah penertiban PKL terse­but sudah sesuai aturan yang berlaku.

Apa hasilnya? "Hasil inves­tigasi menyebutkan penataan PKL di DKI Jakarta rawan praktik mal administrasi berupa, pengabaian, penyalahgunaan wewenang, pungutan liar, dan ketidakpatutan," ujar anggota Ombudsman Adrianus Meliala saat ditemui Rakyat Merdeka di kantor Ombudsman, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Investigasi dilakukan tim Ombudsman pada tanggal 9-10 Agustus di sejumlah tempat yak­ni Stasiun Manggarai, Stasiun Jatinegara, Pasar Tanah Abang, Stasiun Tebet, kawasan sekitar Mal Ambasador. Berikut penu­turan lengkap bekas Komisioner Kompolnas ini terkait hasil investigasi Ombusdman ;


Bisa dijelaskan soal temuan maladministrasi tersebut?
Pertama, soal pengabaian. Kami menemukan bahwa ada petugas Satpol PP yang mem­biarkan PKL, padahal dia tahu bahwa PKL tersebut ada di lokasi yang tidak semestinya. Misalnya di stasiun Manggarai dan Tebet. Anggota Satpol PP jelas ada di sana, tetapi tidak dit­indak. Tindakan pengabaian ini menujukan kalau mereka tidak menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya.

Kedua, soal penyalahgunaan wewenang itu kami menemu­kan adanya oknum Satpol PP yang menfasilitasi PKL untuk berjualan bukan pada tempat yang semestinya. Padahal in­stansi yang berwenang untuk itu adalah Dinas UMKM. Satpol PP dan PNS tidak bisa melakukan hal itu.

Maksud Anda Satpol PP DKI sendiri sebenarnya terli­bat dalam semerawutnya PKL di Jakarta?
Iya. Kalau ormas lebih ke soal duit. Kalau duit dia enggak mau terima langsung.

Lantas temuan lain lagi apa?
Temuan berikutnya itu soal adanya praktek pungli. Kami menemukan ada Ketua RTyang memposisikan diri sebagai pem­beri izin kepada PKL. Pemberian izin ini tentunya disertai penyetoran sejumlah uang. Tak hanya kepada oknum Ketua RT, setoran uang ini juga kami ketahui diberikan oleh PKL kepada ok­num lain supaya mereka lebih aman jualannya. Jadi kalau mau ada razia, mereka bisa langsung tahu. Kalau ada razia Satpol PP, mereka bisa bantu amankan.

Setorannya itu berapa?
Gede-gede, mulai dari ratusan ribu sampai jutaan perbulannya. Saya tidak bisa ungkap besa­rannya. Yang pasti sudah kami serahkan hasil pengakuannya itu kepada pihak terkait supaya ditindaklanjuti.

Apa ada juga PKL yang menyuap Satpol PP agar lebih leluasa berjualan?
Secara langsung tidak. Kalau dulu itu memang dilakukan langsung. Jadi saya sebagai PKL ngasih duit ke Satpol PP. Sekarang enggak, sekarang me­makai orang ketiga, kalau enggak ormas ya preman. Nanti orang ketiga itu yang setor duitnya.

Ada indikasi bila pungli yang dilakukan petugas Satpol PP itu karena ada perintah dari atasan?
Saya enggak mau bilang lah, tapi dapat diduga demikian. Menurut saya tidak tertutup kemungkinan begitu.

Petugas Satpol PP yang diduga bermain dalam kasus ini apakah banyak?
Kalau itu saya enggak tahu pasti, kami susah memperkira­kan jumlahnya. Kalau yang kami temukan, masing-masing tempat itu ada 3-4 orang.

Tapi kasus seperti ini bukan sudah lama kali terjadi..
Mestinya sudah sangat lama ya, karena banyak dari mereka kan sudah lama juga berjualan di sana. Menurut saya ini sudah jadi suatu hal yang sistemik.

Wilayah yang Anda investigasi semuanya ada pelanggarannya?
Di semua kawasan yang kami investigasi ketemu.

Lantas apa tindak lanjut yang Ombusdman lakukan atas temuan ini?

Kami kan bukan lembaga pro justisia. Jadi kami cukup berikan kepada yang bersangkutan. Tapi itu juga enggak menujuk pada orang, karena kami bilang ini fenomena, semacam puncak gu­nung es di laut saja. Kalau dibaca kami punya laporan itu jelas kok, inisialnya apa, lalu pangkatnya apa sudah kelihatan. Tinggal mereka yang kejar dong. Kalau kami berikan semuanya, secara etik salah. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya