Berita

Karhutla/net

Nusantara

BNPB: Periode Kritis Kebakaran Hutan Dan Lahan Sudah Berlalu

KAMIS, 26 OKTOBER 2017 | 02:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Puncak ancaman kebakaran hutan dan lahan telah berlalu. Bulan September adalah puncak dari musim kemarau yang umumnya menimbulkan kebakaran hutan dan lahan meluas di Indonesia. Namun berkat kesiapsiagaan, sinergi, dan antisipasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan berbagai pihak, jumlah titik api dan luas kebakaran hitan dan lahan menurun dibanding tahun sebelumnya.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis kepada redaksi, Rabu (25/10).

"Presiden Jokowi terus memantau pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Sinergi antar pihak menentukan keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan," kata Sutopo.


Hasilnya, kebakaran hutan dan lahan selama tahun 2017 dapat diatasi dengan baik. Berbagai indikator menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan telah berhasil dengan baik. Jumlah hotpsot kebakaran hutan dan lahan berkurang, indeks standard pencemaran udara normal hingga sehat, jarak pandang normal dan aktivitas masyarakat berjalan nomal selama tahun 2017. Tidak ada bandara yang tertutup akibat asap.

Jumlah hotspot dari pantauan satelit NOAA menurun 32,6 persen selama tahun 2017 dibandingkan tahun 2016. Pada tahun 2016 jumlah hotspot dari NOAA sebanyak 3.563 sedangkan selama 2017 sebanyak 2.400 titik. Begitu juga hotspot kebakaran hutan dan lahan dari pantauan satelit Terra-Aqua, terjadi penurunan 46,9 persen. Selama tahun 2016 terdapat 3.628 hotspot, sedangkan tahun 2017 sebanyak 1.927 titik untuk tingkat kepercayaan di atas 80 persen.

Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan dan lahan juga berkurang. Selama tahun 2017 terdapat 124.983 hektare hutan dan lahan yang terbakar. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan pada tahun 2016 seluas 438.360 hektar dan tahun 2015 seluas 2,61 juta hektar.

"Ada pergeseran lokasi kebakaran hutan dan lahan. Jika sebelumnya daerah yang banyak terbakar adalah di Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2017, bergeser ke NTT, NTB dan Papua," tambah Sutopo.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, selama tahun 2017, daerah yang banyak terbakar di NTT seluas 33.030 hektare, NTB 26.217 hektare, dan Papua 16.492 hektare.

Sedangkan daerah-deerah yang langganan kebakaran hutan di tahun sebelumnya, justru berkurang. Luas hutan dan lahan yang terbakar di Riau 6.841 hektare, Sumatera Selatan 3.007 hektare, Jambi 109 hektare, Kalimantan Barat 6.992 hektare, Kalimantan Selatan 3.007 hektare, Kalimantan Tengah 1.365 hektar dan Kalimantan Timur 262 hektare.

Musim kemarau tahun 2017 adalah normal. Lebih kering dibandingkan 2016 yang saat itu kemaraunya basah dan periode musim kemarau lebih pendek karena terpengaruh fenomena La Nina. Namun dibandingkan tahun 2015, kemarau 2017 lebih rendah intensitas keringnya. Tahun 2015 adalah kemarau yang sangat kering dan panjang karena adanya pengaruh El Nino.

Keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan selama 2017, tidak terlepas dari sinergi yang dilakukan semua pihak. Koordinasi yang dilakukan antara Kementerian LHK, BNPB, TNI, Polri, Lapan, BMKG, BPPT, BRG, BPBD, Pemerintah Daerah, relawan, dunia usaha,  masyarakat dan lainnya telah berlangsung dengan baik.

Belajar dari pengalaman kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015, maka selama 2017 Pemerintah Daerah tidak ada yang terlambat dalam menetapkan status siaga darurat sehingga Pemerintah Pusat dapat memberikan pendampingan dan mengambil langkah-langkat antisipasi.

Patroli terpadu dilakukan dengan mendirikan 300 posko desa dengan jangkauan 1.203 desa rawan kebakaran hutan dan lahan. Kementerian LHK menggerakkan 1.980 personil Manggala Agni dan 9.963 orang Masyarakat Peduli Api untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. Ribuan personil TNI dan Polri dikerahkan untuk antisipasi dan pemadaman. BNPB mengerahkan 26 helikopter water bombing dan 3 pesawat untuk hujan buatan. Total 71,9 juta liter air telah dijatuhkan oleh helicopter water bombing, dan 162 ton garam disemai untuk hujan buatan.

"Saat ini upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan masih terus dilakukan di daerah. Siaga darurat kebakaran hutan lahan masih diberlakukan oleh Kepala Daerah hingga akhir Oktober-November 2017. Semoga tahun-tahun mendatang makin lebih baik," demikian Sutopo.[san]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya