Berita

Luhut-Jokowi-JK/Net

Politik

Soal Reklamasi, Gerindra Minta Luhut Tidak Intervensi Jokowi

SABTU, 21 OKTOBER 2017 | 16:52 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Politisi Partai Gerindra Anggawira meminta Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan untuk tidak memaksa Presiden Joko Widodo melanjutkan proyek reklamasi Jakarta. Pasalnya, banyak peraturan yang tidak sinkronan dalam mega proyek tersebut.

"Jangan sampai ada intervensi dari Pak Luhut ke Pak Jokowi karena dalam proyek ini banyak terjadi ketidaksinkronan seperti adanya peraturan perundang-undangan di tingkat pusat sehingga berdampak pada peraturan-peraturan turunan di bawahnya. Belum lagi masalah IMB (Izin Mendirikan Bangunan) yang belum ada," ujar Anggawira di Jakarta, Sabtu (20/10).

Terlebih, saat ini reklamasi masih dalam kajian Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru Anies Baswedan-Sandiaga Uno.


Dilihan dari aturan yang ada, sambung Anggawira, terdapat ketidaksinkronan pada Keppres 52/1995 tentang Reklamasi, yang dijadikan landasan hukum dengan Perpres 122/2012 tentang Reklamasi Pantai di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

"Merujuk pada peraturan-peraturan tersebut perizinan reklamasi yang selama ini dipikirkan Luhut masih belum cukup atau belum memadai untuk mencabut moratorium reklamasi," imbuh Koordinator Sahabat Anies- Sandi ini.

Adapun hasil kajian yang sebelumnya dilakukan oleh Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Menkomaritim dinilai Anggawira tidak transparan karena tidak dipublikasikan ke masyarakat. Oleh sebab itu, dia berharap agar Luhut tidak memaksakan kehendak untuk melanjutkan proyek reklamasi.

"Selain karena banyak peraturan yang tumpang tindih, perizinan yang belum ada, hasil kajian juga kita ragukan karena tidak dipublikasikan. Masyarakat tentu berhak tahu, apalagi ini akan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat pesisir," pungkas Anggawira, wakil ketua DPD Gerindra Jabar. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya