Berita

Foto/Net

Bisnis

Program Atasi Kemiskinan Masih Di Bawah Harapan

Tiga Tahun Pemerintah Jokowi-JK
SELASA, 17 OKTOBER 2017 | 10:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah Jokowi-JK disarankan untuk mempertajam program pengentasan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Karena, saat ini capaiannya masih belum sesuai harapan.

 Kepala Badan Pusat Statis­tik (BPS) Kecuk Suhariyanto menilai, masalah kemiskinan dan ketimpangan masih men­jadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi pemerintah Jokowi JK di sisa masa tugasnya yang ting­gal dua tahun lagi.

"Kalau melihat capaiannya bagus. Tapi harus diakui, belum sesuai harapan, makanya masih banyak yang perlu dibenahi," kata Kecuk di Jakarta, kemarin.


Kecuk memaparkan, dari sisi pertumbuhan ekonomi lebih baik dibandingkan 2014. Kemiskinan mengalami penurunan secara perlahan-lahan meskipun masih di bawah yang ditargetkan.

Untuk ketimpangan ekonomi, lanjut Kecuk, masih menjadi tan­tangan besar. Tidak hanya ketim­pangan ekonomi antarmasyarakat, tetapi juga antardaerah. "Saya kira diperlukan penajaman untuk penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan agar hasilnya lebih optimal," imbuhnya.

Kecuk memuji upaya pemerin­tah dalam melakukan pemerataan pembangunan. Menurutnya, pem­bangunan infrastruktur di wilayah timur Indonesia dapat mendorong pembangunan ekonomi lebih baik ke depan, termasuk untuk mene­kan ketimpangan.

Pada kesempatan ini, Kecuk memberikan pesan khusus ter­hadap Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno yang baru dilantik sebagai Gu­bernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, kemarin.

Dia meminta, Anies-Sandi memberikan perhatian khusus terhadap masalah ketimpangan. "Ketimpangan di Jakarta tinggi. Ini masih menjadi masalah utama di Jakarta yang harus men­jadi perhatian," pintanya.

Berdasarkan catatan BPS, pada Maret 2017, tingkat ket­impangan pendapatan penduduk DKI Jakarta yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,41. Angka ini meningkat tipis sebe­sar 0,01 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,40. Se­mentara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,41, Gini Ratio Maret 2017 tidak mengalami perubahan signifikan.

Selain itu, jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada Maret 2017 sebesar 389,69 ribu orang (3,77 persen). Diband­ingkan dengan September 2016 (385,84 ribu orang atau 3,75 persen), jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,85 ribu atau meningkat 0,02 poin.

September Surplus

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan September mencatat surplus 1,76 miliar dolar AS. Nilai tersebut berasal dari selisih antara ekspor yang mencapai 14,54 miliar dolar AS, sedangkan impor hanya 12,78 miliar dolar AS. "Surplus ini lebih tinggi dibandingkan bulan lalu sebesar 1,71 miliar dolar AS," katanya di Jakarta, kemarin.

Kecuk mengatakan, nilai ek­spor pada September 2017 sebe­narnya turun 4,51 persen diband­ing ekspor bulan sebelumnya. Namun masih tercatat naik 15,60 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Ekspor non migas pada September 2017 mencapai 13,10 miliar dolar AS. Juga mengalami penurunan 6,09 persen dibanding Agustus 2017, sementara dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun lalu naik 13,76 persen.

Kecuk mengatakan, secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-September surplus 10,87 miliar dolar AS, atau selisih dari ekspor 123,35 miliar dolar AS dan impor 112,48 miliar dolar AS. Bahkan surplus September tahun ini lebih tinggi diband­ingkan periode yang sama tahun lalu 6,41 miliar dolar AS.

China masih menjadi prima­dona ekspor nonmigas peri­ode September 2017, tercatat Indonesia dengan 1,89 miliar dolar AS. Bahkan secara kumu­latif, periode Januari-September 2017, nilai ekspor ke China mencapai 14,57 miliar dollar AS. Disusul Amerika Serikat 1,46 miliar dolar AS, dan Jepang 1,31 miliar dolar AS.

Sedangkan negara pemasok barang impor terbesar selain China, Jepang 10,90 miliar dolar AS, dan Thailand dengan nilai impor 6,89 miliar dolar AS.

Kecuk mencatat defisit neraca perdagangan terjadi dengan China sebesar 10,23 miliar dolar AS, Thailand 2,84 miliar dolar AS dan Australia 2 miliar dolar AS.

Sementara itu, Menko Pereko­nomian Darmin Nasution menga­takan, data tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi membaik. "Pertumbuhan investasi dan ekspor itu baik secara tahunan, tapi kalau Month to Month (MoM) mung­kin pertumbuhannya tidak terlalu tinggi," ujarnya.

Darmin yakin dengan capaian itu se­mua, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar di angka 5,2 sampai 5,4 persen di 2017. ***


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya