Berita

Gatot Nurmantyo/Net

Politik

Menimbang Peluang Gatot, Capres Alternatif Atau Cawapres Jokowi

SABTU, 14 OKTOBER 2017 | 21:19 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belakangan ramai diperbicaraan di kancah perpolitikan nasional. Sejumlah partai politik pun dikabarkan mulai melirik Gatot untuk diusung menjadi calon pemimpin nasional pada Pilpres 2019.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan Gatot berpeluang jadi calon presiden alternatif di luar nama Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Gatot juga berpotensi sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Jokowi," kata Pangi dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Sabtu (14/11).


Dengan UU Pemilu yang mensyaratkan calon presiden harus mengantongi 20 persen dukungan di kursi legislatif, pengusungan Gatot harus menghitung ulang kembali.

Seperti diketahui, Jokowi sebagai petehanan sudah memborong dukungan dari PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Sedangkan dua anggota koalisi lainnya, yaitu PKB dan PPP hanya tinggal menunggu waktu untuk mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi.

Sementara itu, Partai Gerindra masih keukeuh untuk mengusung ketua umumnya Prabowo. Sedangkan Demokrat sepertinya juga masih akan memaksakan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju di Pilpres 2019.

"Dua tokoh ini (Prabowo dan AHY) berasal dari militer, dan tentunya berpasangan dengan Gatot tidak akan berhasil, karena ada kecenderungan capres militer akan menggandeng tokoh sipil sebagai pasangannya," ujar Pangi.

Prabowo dan Gatot juga sangat sulit dipasangkan di Pilpres 2019. Selain karena bukan kombinasi pasangan yang ideal karena militer-militer, segmen pemilih Prabowo beririsan alias memiliki kemiripan dengan ceruk segmen preferensi Gatot.

Sebaliknya, jelas Pangi, segmen pemilih ceruk Jokowi berbeda dengan Gatot, buktinya ketika citra dan elektabilitas Gatot mulai menanjak, malah cukup menganggu segmen pemilih Prabowo dan tidak mengurangi elektabilitas Jokowi. Itu artinya, basis pemilih Gatot sama dengan segmen Prabowo yaitu basis fundamental kanan.

"Jika Gatot menjadi cawapres mendampingi Jokowi memang sangat memungkinkan terjadi di Pilpres 2019. Apalagi kombinasi sipil-militer akan sangat menarik dan dipilih publik. Gatot juga bisa menarik segmen pemilih kanan, basis suara umat mayoritas, sementara Jokowi tetap fokus penjaga gawang (gate keeper) menggarap segmen nasionalis sekuler," ungkapnya.

Namun persoalannya kemudian apakah ada jaminan bahwa pemilih Gatot dari segmen kanan atau tengah bakal mantap alias strong voter memilih pasangan Jokowi-Gatot. Menurut Pangi, belum ada jaminan Gatot sukses menarik segmen pemilih kanan.

"Kita tahu basis pemilih Gatot adalah anti pemerintah (oposisi), anti tesis pemerintahan Jokowi, konsisten mengkritik rezim dan mereka biasanya memilih 'asal jangan Jokowi'. Gatot bagus dengan elektabilitasnya sendiri, apabila digabungkan dengan Jokowi belum tentu," jelas lulusan S2 di Jurusan Ilmu Politik UI ini.

Adapun dua partai tersisa, yaitu PKS dan PAN ada kemungkinan besar untuk mengusung Gatot, namun koalisi ini masih kurang untuk memenuhi syarat presidential treshold sebanyak 20 persen. Koalisi ini tentunya harus bisa 'merayu' baik Gerindra maupun Demokrat untuk bersatu membentuk poros baru di Pilpres 2019.

"Ke depan masih ada peluang terjadi pertumbuhan elektoral Gatot. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo cenderung mengalami stagnan atau bahkan menurun. Dalam kondisi seperti itu, masih memungkinkan kuda hitam menjadi pemenang Pilpres 2019. Hasil beberapa lembaga survei, 51 persen masyarakat masih mendambakan figur alternatif baru selain Jokowi, Prabowo dan trah SBY," pungkas Pangi. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya