Berita

Politik

LMND: Lawan Freeport Menangkan Pancasila

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 15:14 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) hari ini melakukan aksi nasional terkait PT Freeport Indonesia.

Aksi serentak ini secara nasional merupakan sebuah tekanan politik lewat gerakan massa kepada perusahaan-perusahaan asing khususnya Freeport yang selama ini terus-menerus melakukan manuver politik dengan mendikte pemerintah lewat kekuatan kompradornya dengan tujuan memuluskan kepentingan akumulasi kapitalnya dalam menjarah kekayaan alam bumi Papua.

Demikian disampaikan Ketua Umum Eksekutif Nasional LMND Indrayani Abdul Razak dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Selasa (10/10).


Jelas Abdul Razak, sejak 1967 saat berkuasanya pemerintahan Orde Baru, kekayaan sumber daya alam bangsa Indonesia mulai dijadikan sebagai produk politik balas budi rezim Orde Baru kepada negara-negara imperialis yang telah membantunya melanggeng dikekuasaan.

Freeport mulai melakukan kegiatan eksplorasi penambangannya sampai hari ini dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh rezim.

"Selama 50 tahun Freeport ada di bumi Indonesia sumbangsih apa yang telah diberikan buat republik dan masyarakat Papua? Tidak lain hanya lubang besar bekas lahan pertambangan, kerusakan ekologi, kemiskinan, PHK buruh, kematian dan hanya sedikit pajak yang diberikan kepada pemerintah," ujar Abdul Razak.

Berbagai macam manufer politik yang dilakukan Freeport agar tetap mempertahankan status quo terhadap penguasaan bumi Papua mulai dari menyusun dan mempermainkan regulasi, mengintervensi kekuatan politik dan ekonomi, mengancam PHK, menggugat ke Arbitrase, tidak melakukan kewajibannya dalam membangun smelter, menolak divestasi 51 persen, bahkan pemerintah yang mewakili negara dibuatnya tunduk dan patuh terhadapnya.

"Oleh karena itu kami dari Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi menginstruksikan secara nasional kepada seluruh kader LMND untuk melaksanakan aksi serentak dengan seruan "ganyang Freeport sebagai simbol neokolonialisme"," seru Abdul Razak.

Untuk hari ini, aksi nasional dilaksanakan di 13 provinsi dan 23 kabupaten/kota dan akan terus dilanjutkan dengan aksi-aksi lanjutan.

Dalam aksi ini, LMND menyerukan enam tuntutan: Pertama, mendesak pemerintah agar tegas bersikap untuk mengakhiri struktur ekonomi kolonial Freeport serta mendorong pembangunan smelter secepatnya untuk pengolahan dan pemurnian agar tidak lagi terjadi ekspor kosentrat.

Kedua, pentingkan kedaulatan nasional dan akhiri perlakuan khusus kepada Freeport dan perusahan-perusahan asing yang menjarah republik. Ketiga, prinsip pengelolaan kekayaan SDM Indonesia harus mengabdi pada demokrasi ekonomi sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945.

Keempat, mendesak Kementrian Keuangan, Kementrian BUMN dan Kementrian ESDM agar lebih mementingkan kepentingan nasional dan menghentikan manufer politik Freeport. Kelima, mendesak Jokowi-JK agar menjalankan Trisakti dan Nawacita secara konsekuen dalam segala sektor. Keenam, jika Freeport menolak tunduk pada kedaulatan pemerintah maka silahkan angkat kaki dari republik ini.

"Lawan Freeport, menangkan Pancasila!" demikian Indrayani Abdul Razak. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya