Berita

Prabowo Sibinato/Net

Politik

Sulit Bagi Prabowo Maju Di Pilpres 2019

SENIN, 09 OKTOBER 2017 | 13:13 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Elektabilitas petahana Joko Widodo belum aman untuk maju di Pilpres 2019. Namun, elektabilitas pesaingnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto malah lebih tidak aman.

Demikian disampaikan pemerhati politik sekaligus Direktur Mahara Leadership, Iwel Sastra mencermati rilis tiga lembaga survei SMRC, Median dan KedaiKOPI terkait elektabilitas calon presiden jelang Pilpres 2019.

Hasil survei SMRC: Jokowi 38,9 persen dan Prabowo 12,0 persen. Median: Jokowi 36,2 persen dan Prabowo 23,2 persen. KedaiKopi Jokowi 44,9 persen dan selain Jokowi 48.9 persen.


Iwel pesimis Prabowo bisa menandingi Jokowi karena berdasarkan hasil survei tersebut jarak elektabilitas mereka masih jauh.

Jelas Iwel, elektabilitas petahana dikatakan aman jika berada di atas 50 persen. Sementara elektabilitas pesaing, tidak terlalu berjahuan dengan sang petahana.

"Inikan sangat jauh. Harusnya elektabilitas Prabowo itu nempel Jokowi. Misalnya, kalau Jokowi 38 persen maka Prabowo harus 36 persen. Ini baru ancaman namanya," ucapnya kepada redaksi, Senin (9/10).

Apalagi, lanjut Iwel, setelah Pilpres 2014 belum terlihat langkah-langkah politik luar biasa dari Prabowo yang berpengaruh positif pada elektabilitas.

"Prabowo dan Gerinda adalah oposisi, tapi tidak terlihat gebrakannya sebagai oposisi," tambahnya.

Dan jika mengacu pada Pilkada DKI Jakarta 2017, kemenangan pasangan Anies-Sandi yang diusung Gerindra dan PKS bukan karena faktor Prabowo, melainkan turun tangannya para ulama yang mendorong umat untuk memilih pasangan tersebut.

"Jadi, yang bakal memilih Prabowo itu nanti di Pilpres 2019 adalah, loyalis Pilpres 2014 lalu dan kader Gerindra dan PKS," demikian Iwel Sastra. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya