Berita

Nusantara

Nawacita Baru Menyasar Infrastruktur, Ketimpangan Pendapatan Apa Kabar?

SENIN, 09 OKTOBER 2017 | 09:17 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Dalam rangka memperingati Hari Pekerjaan Layak Internasional atau Decent Work Day 2017 yang jatuh pada 7 Oktober, Labor Institute Indonesia menyoroti adanya ketimpangan pendapatan.

Indonesia terjebak dalam situasi middle income trap, sebagai negara yang emerging country. Dimana kelas menengah ke bawah yaitu kalangan pekerja buruh lebih lambat menjadi kaya, sebaliknya kelompok kelas atas atau elite yang merupakan kalangan pengusaha dan elite politik justru lebih cepat bertambah kaya, sehingga daya beli dan perputaran uang dikuasai oleh mereka.

Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga kepada redaksi, Senin (9/10).


"Kami memprediksi kalangan pekerja dikarenakan rendahnya pendapatan tadi sangat sulit mengakses kredit ke perbankan, dan sebagian besar pekerja gagal bayar dalam kredit atau cicilan motor dan kebutuhan pokok lainnya. Mayoritas pekerja terperangkap dalam rentenir dikarenakan sulitnya akses perbankan dikarenakan pendapatan yang minim," ujar Andy.

Permasalahan lain yang menimbulkan kurang layaknya kehidupan pekerja adalah akses terhadap jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan. Pelayanan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan masih sangat kurang.

Mayoritas kantor pelayanan BPJS Kesehatan berada di pusat kota dan kabupaten. BPJS Ketenagakerjaan juga masih terbatas pelayanannya karena belum menyentuh seluruh pekerja di Indonesia, karena baru melayani sepertiga pekerja di Indonesia.

"Selain itu konsep rumah murah dan rumah susun murah buruh juga tidak tepat sasaran karena jauh dari lokasi industri, sehingga buruh mengeluarkan extra cost untuk transportasi," ungkap Andy.

Untuk itu, pihaknya menghimbau agar pemerintah segera membuat program real dan tepat untuk mempersempit ketimpangan pendapatan dan memperbaiki kinerja BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan guna mendukung penghidupan yang layak bagi pekerja.

"Perlu empower terhadap eksistensi nawacita karena nawawcita hanya dirasakan terbatas pada infrastruktur, tetapi belum menyentuh permasalahan ketimpangan pendapatan dan perbaikan atas fasilitas BPJS, termasuk rumah murah dan rumah susun," pungkas Andy. [rus]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

SGU Gandeng Poltek SSN Perkuat Pendidikan Siber Keamanan

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:09

Jokowi Bohong soal 54 Kali Ajak Makan Siang PKL Solo

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:02

Sentralisasi Hambat Otonomi Daerah

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:49

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus TPPU Febrie, Empat Penyidik Polri

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:05

Terungkap Jokowi Ikut Dirikan Gerindra di Solo Jelang Pemilu 2009

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:00

Satgas Jaga Jakarta dan FKDM Jangan Loyo Antisipasi Tawuran Warga

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:28

Polda Metro Jaya Bongkar Sindikat Pengedar Etomidate

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:24

Beredar Hasil Survei 32 Capres 2029

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:02

DKPP Putus Perkara Helikopter KPU pada 29 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:23

GOR Ciracas Diserbu 3.190 Pelamar Kerja

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:05

Selengkapnya