Berita

Saiful Mujani/Net

Publika

Saiful Mujani Pengkhianat Intelektual

SABTU, 07 OKTOBER 2017 | 14:28 WIB

SUDAH menjadi pengetahuan publik bahwa banyak pollster di Indonesia berperilaku khianat. Mereka menjual integritas intelektualnya demi memenangkan klien yang membayari polling yang mereka lakukan. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang triliunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Pengarahan opini publik dengan membentuk image-image yang berlawanan dengan kenyataan disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dengan segera mengundang penentangan dari pendiri LSI lainnya.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.


Publik pasti belum lupa ketika Saiful Mujani, pendiri SMRC, mengunggah dokumen hoax yang menyebutkan bahwa Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Sebagai pemilik perusahaan polling yang dikontrak oleh Ahok, Saiful mestinya membantu Ahok melalui keilmuannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia menjual integritas ilmiah yang melekat pada pekerjaan pollster, demi keuangan yang mahakuasa.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua Pilkada DKI ketika SMRC merilis hasil survei bahwa "Anies hanya unggul kurang dari 1 persen". Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20 persen. Bagi pollster profesional selisih sebesar itu sangatlah aib, dan tidak mungkin terjadi bila survei dilakukan dengan menggunakan prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah telah dibuang, dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Kecenderungan politik yang sama terjadi lagi dalam dua polling terakhir yang dilakukan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa "PKI akan bangkit". Analisis SMRC itu dipenuhi oleh interpolasi, ekstrapolasi dan simplifikasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan yang jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu uraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017, SMRC merilis lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9 persen sementara Prabowo hanya 12 persen. Terdapat selisih lebih dari 200 persen, dimana logikanya?

Seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dihujani kritik publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dan seterusnya. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4 persen dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200 persen?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa "Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah". Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas tiga kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba. [***]

Radhar Tribaskoro
Penulis adalah politisi Partai Gerindra / Wakil Ketua Dewan Penasehat Gerindra Jawa Barat

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

DPR Godok Anggaran Rekrutmen KPU-Bawaslu Daerah Dilakukan Serentak

Kamis, 09 Juli 2026 | 22:23

Dari Pala Jadi Peluang, BRI Peduli Perkuat Usaha KWT Bogor Lewat Program AURA

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:50

Mandatori B50 Meluncur, Indonesia Siap Perkuat Kedaulatan Energi

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:50

Prabowo Prediksi Target 100 GW PLTS Bakal Dihujat Pakar

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:46

Kejagung Sebut TNI Jaga Rumah Jampidsus Sudah SOP

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:38

Prabowo: Banyak Negara Iri dan Benci, Ingin RI Kolaps

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:30

Kapal Tanker Pertamina Pride Berhasil Lintasi Selat Hormuz

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:17

Rumah Sentul Tak Masuk LHKPN, Segini Harta Jampidsus

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:13

Prabowo Siapkan Penghargaan untuk Tokoh-tokoh di Balik Kesuksesan B50

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:10

Galon PC Tak Sebabkan Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker

Kamis, 09 Juli 2026 | 20:35

Selengkapnya