Berita

Nusantara

13 Dari 18 Kecamatan Di Bima Daerah Penghasil Bawang Merah

Pasok Kebutuhan Nasional 34 Persen
KAMIS, 05 OKTOBER 2017 | 15:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Bawang merah merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan kelompok sayuran non komplementer sehingga berpengaruh pada tingkat inflasi.

Untuk menghindari fluktuasi harga yang dapat disebabkan oleh biaya tanam, cuaca, stok transportasi maupun bawang impor, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah sepanjang tahun.

Demikian disampaikan Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP STN) Ahmad Rifai dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (5/10).


Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat salah satu contoh daerah yang dapat menanam bawang merah sepanjang tahun dan tidak tergantung dari musim.

Ahmad Rifai mengatakan, produk tanaman pangan dan hortikultura dari Kabupaten Bima yang telah menembus pasar regional maupun nasional adalah kacang tanah, kedelai dan bawang merah.

Data Dinas Pertanian Bima tahun 2014, Kabupaten Bima sekarang telah menjadi sentra produksi bawang merah di Indonesia dengan tingkat produksi rata-rata setiap tahunnya mencapai 80-100 ribu ton atau berkontribusi sekitar 34,73 persen dari kebutuhan nasional.

NTB sendiri menempati posisi keempat dari 10 besar daerah penghasil bawang merah. Penghasil bawang merah di NTB terutama terdapat di Kabupaten Bima yang terdiri dari 18 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 13 kecamatan di Kabupaten Bima merupakan daerah penghasil bawang merah.

Jelas Ahmad Rifai, potensi lahan yang dapat dipergunakan untuk pengembangan bawang merah di Bima terdiri dari lahan sawah maupun lahan kering seluas 12.644 Ha dengan potensi hasil produksi setiap tahunnya berkisar antara 98.000-130.000 ton per tahun tetapi baru termanfaatkan seluas 5.311 Ha dengan hasil produksi sebesar 63.732 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari potensi yang ada, sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan lagi di masa mendatang.

"Sebagai informasi bahwa penanaman bawang merah di Bima dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa melihat musim kemarau atau musim hujan sehingga hasilnya dapat melimpah, sedangkan di daerah lain jika musim hujan tidak dapat ditanami bawang merah. Ada satu komoditi bawang merah lokal di daerah ini yang dapat ditanam pada waktu musim hujan, yaitu Bowo Varietas Ketamonca dengan luas areal tanam 400 Ha dan ditanam sekitar 20-30 meter dari pinggir laut," paparnya.

Hari ini (Kamis, 5/10), bertempat di Watasan Tolo, Desa Rato, Kecamatan Lambu, Bima, petani bawang merah yang tergabung dalam STN melaksanakan Panen Raya Bawang sekaligus memperingati Hari Tani Nasional yang ke 57.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WITA tadi dibuka oleh Bupati Bima dan dihadiri perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Desa PDTT, Pemerintah Provinsi NTB, jajaran SKPD, perwakilan BUMN, dan seluruh masyarakat di Lambu, Bima. Pada kegiatan ini akan dilakukan panen secara massal pada lahan seluas 200 hektar yang telah mencapai masa panen.

"Sebagai penambah informasi, jumlah petani bawang di Bima terdiri dari kurang lebih 60.000 KK dengan kemampuan produksi berkisar 15-18 ton per hektar yang biaya produksinya mencapai Rp 108 juta per hektar. Harga jual yang diperoleh petani berkisar di angka Rp 7000 per kg dengan metode jemput bola oleh para tengkulak di sawah maupun di rumah masing-masing petani," ujar Ahmad Rifai.

Ditambahkannya, menjadi suatu kerentanan tersendiri bagi petani bawang dengan biaya produksi yang tinggi namun tidak diimbangi dengan jaminan harga panen yang stabil dari pemerintah. Sehingga seringkali petani bawang mengalami kehancuran ketika harga terombang-ambing oleh pasar yang tidak jelas. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya