Prayuth Chan Ocha/The Guardian
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi tuan rumah bagi pemimpin junta Thailand, Prayuth Chan-ocha di Gedung Putih (Senin, 2/10).
Kunjungan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha datang tiga tahun setelah dia merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta militer tak berdarah di Thailand.
Pemerintah Trump, seperti Obama, tetap menekankan bahwa hubungan dengan Thailand akan bisa dipulihkan sepenuhnya hanya jika demokrasi dikembalikan.
Namun demikian, menyambut kedatangan Prayuth awal pekan ini, berarti adanya perubahan sikap terhadap kebijakan kepada Thailand tersebut.
Penyambutan otokrat oleh presiden di Gedung Putih memang bukan kali pertama dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat. Namun pertemuan Presiden AS dengan pemimpin kudeta ini menjadi sorotan.
Mungkin perbandingan terakhir yang paling dekat dengan Prayuth adalah mantan panglima militer Pakistan Jenderal Pervez Musharraf, yang muncul sebagai sekutu dekat Presiden George W. Bush dalam perang melawan teror. Musharraf pertama kali mengunjungi Gedung Putih pada tahun 2002, tiga tahun setelah dia merebut kekuasaan dari seorang pemimpin terpilih dan sebelum menabrak sebuah referendum nasional untuk mendukung kepresidenannya.
Trump telah melonjak melalui kritik tentang penjangkauan ke pemimpin asing yang otoriter saat ia mencari untuk menopang aliansi lama Amerika.
Dia memuji Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas perang mematikannya terhadap obat-obatan yang telah menyebabkan ribuan orang meninggal, menurut sebuah transkrip telepon April yang bocor.
Pada bulan yang sama, Trump menyambut Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi ke Gedung Putih, sesuatu yang dihindari Obama. El-Sissi telah mengambil alih kekuasaan dalam kudeta tahun 2013 dan kemudian terpilih sebagai presiden. Demikian seperti dimuat
The Guardian.
[mel]