Berita

Foto/Net

Bisnis

Pengusaha Mebel Ngarep Dana Subsidi

Butuh Teknologi Genjot Daya Saing
SENIN, 02 OKTOBER 2017 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha mebel meminta pemerintah bisa mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi industri furnitur dan mebel. Dana itu untuk mendorong daya saing produksi.

 Wakil Ketua Umum Himpu­nan Industri Mebel dan Kera­jinan Indonesia (Himki) Abdul Sobur menjelaskan dana sub­sidi tersebut dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan bahan baku dan teknologi. "Dana sub­sidi akan meningkatkan daya saing produk untuk pasar dalam negeri dan mancanegara," ka­tanya kepada Rakyat Merdeka di acara pameran International Furniture Manufacturing Com­ponent Exhibition (IFMAC) dan Woodworking Machinery Exhi­bition (WOODMAC) di Jiexpo, Jakarta, Jumat (29/9).

Dia mengklaim, sudah berk­oordinasi dengan pemerintah khususnya Kementerian Perin­dustrian (Kemenperin) untuk merealisasikan dana subsidi tersebut. Paling lambat perten­gahan tahun depan dana tersebut sudah cair.


"Tahun depan saya kira Ke­menterian Perindustrian sudah pasti akan alokasikan dana APBN untuk mendukung in­dustri mebel dan kerajinan," tegasnya.

Tanpa dukungan tersebut, dia pesimistis, industri mebel dalam negeri bisa bersaing dengan negara lain. Meski de­mikian, Sobur belum berani menyebutkan jumlah nominal dana subsidi yang dibutuhkan. "Untuk besaran belum diberi­tahu nominalnya, begini karena dana itu harus terserap, kalau kita mengalokasikan nominal lalu uang itu tidak terserap juga tidak bagus," terangnya.

Namun, dia berharap, subsidi sebesar 25 persen dari kebutuhan belanja industri. "Kalau misalnya dana yang diberikan itu Rp 100 miliar maka industri harus belanja di atas Rp 400 miliar itu kan cu­kup siginifikan," katanya.

Angka Rp 100 miliar dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan industri tekstil yang menerima suntikan subsidi hingga Rp 1,5 triliun. "Hanya bagian kecil dari subsidi tek­stil," ujarnya.

Sobur mengungkapkan, saat ini industri tekstil mengalami perlambatan pertumbuhan lan­taran kekurangan dana. Omset bisnis furnitur dan mebel yang saat ini berada di kisaran 1,6 mil­iar dolar AS sangat lambat jika dibandingkan dengan China.

"Dari Himki mengajukan mungkin untuk tahap awal 5 tahun dulu. 5 tahun sudah bagus sudah bisa akselerasi dengan teknologi," terangnya.

Dana tersebut, menurutnya, tidak akan diberikan kepada seluruh pelaku usaha, melainkan hanya dikhususkan bagi yang berbasis ekspor. Hal itu sengaja dilakukan karena jika diberikan kepada seluruh pelaku usaha dananya akan kebesaran. "Ada 3.000 perusahaan berbasis ek­spor harapannya semuanya dapat subsidi tapi tentu sangat besar makanya nanti kita saring dulu," ungkapnya.

Perusahaan furnitur dan mebel asal China sudah lebih dulu mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah di negaranya. "Saya pikir pemerintah sudah paham, tanpa dukungan susah kita bersaing," kata dia.

Saat ini, walau Indonesia memiliki sumber bahan baku namun distribusinya masih tert­inggal dan mahal. Selain itu hasil produksi juga nampak kurang modern karena tidak memiliki mesin yang canggih. Dengan dukungan penuh dari pemer­intah terhadap pengembangan industri, maka masa kejayaan mebel dan furnitur Indonesia bisa bangkit lagi.

Bahkan dalam empat tahun kedepan dapat tumbuh sampai 5 miliar dolar AS. "Diharapkan adanya dukungan dapat menum­buhkan kembali ekspor mebel nasional," ucap Sobur.

Bahan Baku Langka

Ketua Umum Himki Soenoto mengatakan, dalam dua tahun terakhir industri mebel dan kerajinan Indonesia mengalami penurunan kinerja. Hal terse­but disebabkan kelangkaan bahan baku rotan. Kelangkaan ini ternyata bukan tanpa sebab. "Salah satu penyebabnya adalah masih terus berlangsungnya penyelundupan bahan baku ro­tan ke beberapa negara, seperti China, Vietnam, dan lainnya," tuturnya.

Untuk itu, Himki tetap mendukung diberlakukannya Permendag No, 35/M-DAG/ PER/11/2011 yang diterbitkan pada bulan November 2011 tentang ketentuan ekspor rotan, dimana didalamnya mengatur adanya larangan ekspor rotan dalam bentuk rotan mentah dan rotan setengah jadi. Hal ini mengingat industri mebel dan kerajinan rotan di dalam negeri sangat membutuhkan bahan baku untuk semua jenis rotan. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya