Berita

Sutiyoso/Net

Wawancara

WAWANCARA

Sutiyoso: Mereka Semakin Berani Tampil, Tak Malu-malu Lagi Ungkap Identitas PKI-nya

SENIN, 25 SEPTEMBER 2017 | 11:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penayangan kembali film G30S-PKI terus menimbul­kan kontroversi di masyarakat. Banyak yang pro, namun banyak juga yang kontra. Baik yang pro maupun yang kontra memiliki argumennya sendiri. Berikut pandangan eks Kepala BIN, Sutiyoso terkait isu penayangan kembali film G30S-PKI;

Anda setuju dengan pe­mutaran kembali film G30S-PKI?

Tentu saya setuju, karena ini adalah peristiwa yang menyebabkan luka dalam terhadap bangsa. Saat itu PKI telah melakukan pengkhianatan ter­hadap bangsa, dengan cara kudeta. Kejadian itu menimbul­kan korban yang cukup besar, terutama orang-orang penting. Generasi-generasi berikutnya perlu tahu bahwa ada peristiwa seperti itu, supaya semua pihak waspada. Yang namanya generasi itu kan pasti terus berganti. Kalau dia tidak mengerti, nanti bisa terjadi lagi mungkin dalam bentuk yang lain.

Tapi banyak pihak yang enggak setuju jika film itu kembali diputar karena isinya dinilai banyak yang jauh dari fakta?

Tapi banyak pihak yang enggak setuju jika film itu kembali diputar karena isinya dinilai banyak yang jauh dari fakta?
Saya kira intinya adalah kita perlu ingat telah terjadi peristiwa yang sangat melukai bangsa. Bahwa ada yang tidak setuju, ya tidak apa-apa. Pro-kontra itu kan biasa. Tapi saya kira banyak yang setuju untuk diputar kem­bali. Bahwa alasannya karena isinya salah, ya dicek dulu secara ilmiah apa betul ada yang salah. Kalau terbukti ada yang salah, yang salah mari kita betulkan. Kalau bagi saya dari semua cerita film itu lebih banyak be­narnya. Sutradara film itu kan sudah punya reputasi. Dia juga tidak akan sembarangan pada saat bikin film, dipastikan dia akan cari berbagai sumber. Tapi kalau ada yang salah kan kita masih punya narasumber yang bisa memberikan keterangan kejadian saat itu. Kalau misalnya ternyata Aidit itu tidak merokok, ya adegan merokoknya tinggal dipotong. Jadi mana yang tidak tepat bisa diperbaiki, tapi adanya film itu menurut saya sangat diperlukan

Kenapa sekarang ke­beradaan film ini diperlukan?

Inget enggak film ini sudah berapa lama berhenti tayang? Kira-kira hampir 10 tahun kan. Apa yang terjadi? Mereka pelan-pelan semakin berani tampil, sampai sekarang sudah nyaris vulgar kan. Sekarang mereka tidak malu-malu lagi mengung­kapkan identitas PKI-nya. Jadi memang harus diingatkan kem­bali pernah terjadi seperti ini.

Maksudnya diingatkan itu untuk mencegah potensi PKI atau paham komunisme bang­kit lagi?
Iya. Sekarang PKI itu seperti mau tampil lagi kan. Dari tahun ke tahun trennya terus meningkat sampai vulgar. Bisa pakai kaus PKI dengan bangga tanpa takut-takut. Ngomong juga makin vulgar bahwa mereka PKI atau keturunan PKI. Kalau film itu diputar lagi secara rutin, eksis­tensi PKI dan ideologinya akan makin pudar. Keturunan PKI ini tentu harus dikembalikan kewajiban dan haknya. Karena sebagai warga negara, mereka punya kewajiban dan hak yang sama dengan warga negara yang lain. Tapi semuanya harus sadar pernah ada pengkhianatan dan tragedi seperti itu. Supaya ketu­runan kita ini harus waspada betul. Kalau tidak terus diingat­kan, PKI bisa merajalela lagi.

PKI ini kan isu sensitif. Enggak khawatir malah bikin situasi enggak kondusif?
Kalau pemutaran film ini kon­sisten dengan tujuannya untuk mengingatkan generasi muda, saya rasa tidak akan membuat situasi keruh. Yang penting, jan­gan diplintir, jangan dijadikan provokasi untuk tujuan politik. Lurus-lurus saja. Kita kan hanya ingin mengingatkan generasi penerus, dulu ada kejadian ini. TNI-Polri juga akan terus men­jaga agar situasi terus kondusif. Kalau ada yang nyeleweng, yang provokasi, pakai hoaks, pakai ujaran kebencian, ya ditindak saja langsung. TNI-Polri berkewajiban melindungi rakyat siapa saja yang menjadi sasaran provokasi.

Termasuk jika yang jadi tar­get para keturunan PKI?

Iya, mereka juga harus kita lindungi. Kalau mau nyerang keturunan PKI ya salah itu. Niat memutar film ini kan bukan buat menyerang mereka, tetapi untuk mengingatkan semua terutama prajurit. Prajurit yang sekarang ini enggak akan paham karena enggak mengalami. Padahal yang jadi korban kan TNI juga waktu itu. Masalahnya kalau mereka enggak tahu, mereka enggak akan waspada. Akibatnya ke depan bisa berbahaya. Jadi enggak usah khawatirlah. Aparat pasti menindak siapa pun yang membuat masalah. Saya yakin enggak akan ada masalah kalau film itu diputar. Yang tidak setuju ya jangan lihat gitu saja.

Menurut anda film ini perlu diputar rutin di sekolah kayak dulu enggak?

Menurut saya perlu. Kan tujuannya supaya anak muda sekarang tahu, supaya mereka ngerti kejadian saat itu seperti apa. Bahwa perlu diperbaiki saya setuju saja. Mari kita per­baiki kalau memang ada yang enggak bener. ***

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya