"Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa 4: 100).
Hari ini, umat Islam di seluruh belahan dunia memperingati tahun baru 1 Muharam 1439 H, yang populer dengan nama tahun baru Hijriyah. Sebagai bangsa religius yang mayoritas penduduknya beragama Islam, melalui Keputusan Presiden Nomer 24 tahun 1953, Presiden Soekarno telah menetapkan Tahun Baru Hijriyah sebagai hari libur nasional bersama dengan 13 hari libur nasional lainnya.
Sekalipun peringatan tahun baru hijriyah diinspirasi oleh hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekah ke Madinah pada 15 abad yang lalu, peristiwa tersebut masi relevan dan kontekstual untuk senantiasa dijadikan bahan introspeksi dan juga refleksi dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Sehingga kita dapat hikmah mengambil dibalik peristiwa hijrahnya tersebut.
Salah satu gagasan pemikiran keagamaan yang disampaikan oleh Sukarno, pemikir pejuang dan pejuang pemikir, adalah tentang Islam Sontoloyo. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), kata "sontoloyo" diartikan sebagai: konyol, tidak beres, bodoh, dan dipakai sebagai kata makian (umpatan). Tetapi, dalam ungkapan istilah Jawa, kata sontoloyo artinya penggembala bebek. Dalam ungkapan guyonan bernada sarkasme "angon bebek songo, ilang limo." Sontoloyo!
Ungkapan “sontoloyo†ini dipopulerkan oleh Sukarno, pada 1940. Melalui artikel yang ditulisnya di majalah Panji Islam (8 April 1940), berjudul “Islam Sontoloyoâ€. Dalam tulisannya itu, secara tajam Bung Karno mengkritik para guru, ustadz, dan kiai yang dinilainya terlalu literer, fikih oriented, dalam berfikir dan dalam praktik keagamaan.
Setidaknya ada lima ciri Islam Sontoloyo, yang menurutnya membuat Islam mundur dan konflik tak berujung di tengah masyarakat dan penghambat kemajuan bangsa. Pertama, Royal Mencap Kafir. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara(1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu yang begitu mudah mencap kafir. “Kita royal sekali dengan perkataan “kafirâ€, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafirâ€. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi kafir; tulisan Latin kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!â€
Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta. “Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?†tulisnya. Perilaku tersebut sampai hari ini masih tumbuh subur disebagaian kalangan umat Islam dengan memberikan stigma “kafir†kepada orang yang berbeda pilihan politik. Hal ini dapat terlihat jelas dalam kasus Pilkada DKI Jakarta kemarin.
Kedua, Taklid Buta. Taklid (Arab) bermakna mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya. Jadi hanya sekedar ikut-ikutan saja. Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.
“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,†paparnya.
Penyakit taklid buta ini, sampai sekarang masih diidap oleh sebagian kaum muslimin. Sehingga yang terjadi adalah ketaatan yang membabi buta tanpa ada kekritisan. Mengkritisi dianggap melawan, apalagi terhadap orang yang dianggap lebih pandai dalam hal agama, dan bisa menimbulkan kualat bagi pelakunya. Sehingga beragama itu dipenuhi dengan kekhawatiran, yang jika dibiarkan akan menimbulkan kebodohan-kebodohan baru.
Ketiga, Mengutamakan Fikih. Fikih (Arab) adalah salah satu bidang ilmu dalam Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya. Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah.
“Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,†tulisnya.
Hal itu tak berarti Bung Karno membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan ia menyebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan. “Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,†tulisnya.
Karena fikih itu sebagai alat, tentu bersifat fleksibel. Dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika umat Islam masih berkutat pada perdebatan diseputar alatnya saja, maka menjadi sulit untuk dapat mengetahui secara mendalam tentang ajaran subtansi Islam itu sendiri.
Keempat, Tidak melek sejarah. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling†kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!. “Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalamâ€, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,†tulisnya.
Umat Islam perlu hijrah dengan menambah asupan bacaan dan mempelajari sejarah perjuangan Islam secara mendalam. Sehingga cakrawala keilmuannya bertambah dengan menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga dalam merancang kehidupan yang lebih baik.
Kelima, Hadis lemah (dhaif) sebagai pedoman. Menurut sebagian ulama, hadis lemah bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al Qur’an. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam. “Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.â€
Dalam konteks sekarang, di tengah masih rendahnya budaya literasi bangsa Indonesia, penting untuk direnungkan kembali tentang pengamalan ajaran-ajaran agama yang bersumberkan dari hadits dhaif. Sebab, tak hanyak menimbulkan kesesatan dalam berfikir dan bertindak tetapi juga pada kemunduran umat Islam.
Dalam momentum tahun baru hijiryah ini, hijrah dilakukan baik secara pikiran, sikap maupun perbuatan. Hekekat hijrah adalah menuju kehidupan yang segalanya lebih baik. Hijrah merupakan salah satu jalan untuk meraih kesuksesan hidup. Hijrah harus dilakukan dengan niat dan tujuan yang baik dan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Sebab tantangan hijrah adalah pada konsistensi, sehingga hasilnya lebih maksimal.
Hijrah dari Islam Sontoloyo dapat dilakukan dengan; 1). Memahami ajaran Islam secara baik dan benar yang bersumber dari Al Qur’an, Sunah dan Ijtihad ulama. 2). Berguru dan bertanya kepada orang alim (berilmu) yang memang ahli dalam bidangnya, 3). Berteman dengan orang yang baik, sehingga akan kecipratan sifat baik dari orang tersebut, 4). Bergabung dengan organisasi keagamaan yang memiliki track record baik dan terbukti memberikan kontribusi positif terhadap gagasan, sumbangsih pemikiran dan karya nyata untuk umat dan bangsa, 5). Mengamalkan ajaran Islam secara Istiqomah, baik dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. 6). Menyebarkan islam yang ramah dan rahmatan lil alamin, sehingga memberikan energi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahua’lam
[***]
Penulia adalah Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus PP Muhamamdiyah dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia