Berita

Publika

Developmentalism Itu Kini Bernama Infrastruktur

KAMIS, 21 SEPTEMBER 2017 | 09:46 WIB

BERBAGAI perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol direncanakan dengan sengaja yang kesemuanya berorientasi hanya untuk mendukung mobilitas ekspor dan impor kapital milik rejim neoliberilesme yang komandannya adalah Sri Mulyani (SMI), mirip yang dilakukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels di zaman kolonial dulu yang membangun "Jalan Raya Pos" dengan korban jiwa ribuan orang pribumi Indonesia.

Melalui skema  program Kerja Sama Pembiayaan Swasta (KPS/KPBU) dengan bentuk kerja sama utang negara maupun swasta asing dan asong lokal secara langsung, pembangunan infrastruktur yang mengatasnamakan kebutuhan rakyat dan dibangun atas dasar skema liberalisasi aset publik yang disembunyikan dalam skema tersebut.

Akibat dari program tersebut bisa dipastikan ke depan penghapusan subsidi masyarakat dan pengurangan jaminan sosial akan semakin brutal dilakukan oleh rezim ini seiring dengan pembangunan infrastruktur.


Rejim jalan tol Jokowi bersama ideolog ekonominya yang neoliberal yaitu SMI dan Darmin Nasution telah melakukan beberapa kejahatan terlegalisasi yakni, menumpuk utang luar negeri dan menerbitkan surat utang sebesar besarnya  untuk dipergunakan agar terjadi akumulasi kapital asing dan asong swasta lokal, dan atas nama peraturan neoliberal memungut pendapatan lewat skenario berbagai aturan pajak kepada masyarakat yang sudah lemah daya belinya, mengakibatkan harga-harga barang konsumsi melambung dan menerapkan bunga tinggi untuk mendapatkan uang agar tetap bisa bayar utang. Kemudian menghapus subsidi bagi rakyat terutama disektor energi tapi disisi lain memberikan subsidi bagi sektor corporate swasta besar lewat fasilitas kredit pemerintah mengeruk untung dengan menjual BBM mahal, listrik mahal, jalan tol mahal, pendidikan mahal dan kesehatan mahal. sungguh tidak adil!

Dukungan rezim neoliberal Jokowi dan SMI terhadap skema ini juga sangat total, berbagai skema percepatan agar pembangunan infrastruktur segera dijalankan telah dilakukan, contohnya pembentukan Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) yang tugasnya sebagai "User" dalam proyek prioritas infrastruktur guna melancarkan kepentingan kaum neoliberalisme.

Begitulah watak mereka dan ini dibuktikan dengan berbagai kebijakan ekonomi yang mereka hasilkan sangat konservatif sekali, tidak ada terobosan dan nihil inovasi maka tidak aneh bila duet SMI dan Darmin ini prestasinya mentok di angka pertumbuhan 5 persen plus nol koma sekian dan tidak ada relevansinya progresifitas utang dengan kesejahteraan rakyat dan daya beli. Sementara ketika panik SMI sibuk mengutak-atik APBN akhirnya dia pilih menerapkan austerity alias pengetatan belanja caranya dengan pemotongan anggaran termasuk belanja yang menjadi kewajiban pemerintah kpd rakyatnya yang dengan propaganda  mrk disebut dengan istilah  "subsidi".

Akibatnya berbagai harga kebutuhan dasar meroket seperti gas LPG 3 kg dan seringkali langka dipasaran, listrik, dan BBM karena  komoditas ini adalah "cost driver" maka segera menjadi pemicu kenaikan harga berbagai  kebutuhan pokok lainnya. Tentu saja, yang paling berat adalah rakyat miskin dan nyaris miskin kelompok yang nyaris ini pun akhirnya  tergelincir menjadi miskin sebagaimana dirilis BPS beberapa waktu lalu (termasuk data pertumbuhan ekonomi kuartal ke 2 thn 2017) dan jelas saja setelah itu masyarakat komplain dan marah tapi SMI malah berargumen dengan menuding masyarakat memiliki mental gratisan.

Pembangunan itu sejatinya bisa mengubah keadaan dan memajukan Bangsa, memperkuat daya beli,memperbanyak daya serap tenaga kerja,memaksimalkan produksi dan mengembangkan added value ketika dilandasi oleh "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia" Waspadalah!![***]


Satyo Purwanto

Sekretaris Jenderal Pro Demokrasi (ProDEM)

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya