Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Tribhuwana Wijayatunggadewi Menyetarakan Gender

SENIN, 18 SEPTEMBER 2017 | 06:15 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI samping Indonesia Raya yang telah dinobatkan menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia, Wage Rudolf Supratman juga menciptakan lagu "Ibu Kita Kartini" dengan teks sebagai berikut:

"Ibu kita Kartini, putri sejati, Putri Indonesia, harum namanya, Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, Pendekar kaumnya untuk merdeka, Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia, Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia".

Pahlawan Nasional


Kartini telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan hari kelahirannya dirayakan sebagai Hari Raya Nasional setiap tanggal 21 April sebab Kartini dianggap berjasa bagi bangsa Indonesia dalam menghadirkan kesetaraan gender.

Namun sementara Kartini masih pada tahapan bercita-cita, sebenarnya lima abad sebelum Kartini dilahirkan telah hadir seorang perempuan yang telah nyata berhasil menyetarakan gender di persada Nusantara.

Perempuan perkasa tersebut adalah Dyah Gitarja yang kemudian lebih dikenal di lembaran sejarah Nusantara dengan nama Tribhuwana WijayatungGadewi.

Bhre Kahuripan

Dyah Gitarja adalah putri Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328), Dyah Gitarja sebagai putri Raden Wijaya dan saudara tiri Jayanegara diangkat sebagai penguasa di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan.

Menurut Pararaton, Jayanagara merasa tahtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya, Dyah Wiyat dan Dyah Gitarja menikah. Setelah Jayanagara wafat pada tahun 1328, para ksatriya pun berdatangan melamar kedua putri. Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat. Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel.

Dari perkawinan itu lahir Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.

Naik Tahta

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya, Gayatri pada tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal pada tahun 1328.

Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa.

Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali.

Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera.

Sejarah memang membuktikan bahwa sementara Kartini masih pada tahapan bercita-cita menyetarakan gender, Tribhuwana Wijayatunggadewi sudah berhasil mewujudkan kesetaraan gender dengan bukti nyata bahwa dirinya berhasil berjaya sebagai pimpinan tertinggi di Majapahit sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. [***]

Penulis adalah penulis buku Kelirumologi Genderisme

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya