Berita

Foto: CNN

Dunia

Suara Bulat DK PBB Jatuhkan Sanksi Paling Kuat Untuk Korea Utara

SELASA, 12 SEPTEMBER 2017 | 14:27 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa dengan suara bulat mengadopsi resolusi yang dirancang Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi baru kepada Korea Utara, pada Senin.

CNN melaporkan, resolusi tersebut dirancang untuk mencapai enam sasaran utama: menutup impor minyak Korea Utara, melarang ekspor tekstil, mengakhiri kontrak kerja warga Korea Utara di luar negeri, menekan upaya penyelundupan, menghentikan bisnis bersama Korea Utara dengan negara lain, dan memberi sanksi kepada badan pemerintah Korea Utara.

"Hari ini, kami mengatakan bahwa dunia tidak akan pernah menerima Korea Utara yang memiliki senjata nuklir, dan hari ini Dewan Keamanan mengatakan bahwa jika rezim Korea Utara tidak menghentikan program nuklirnya maka kita akan bertindak untuk menghentikannya sendiri," ujar Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, setelah pemungutan suara di DK PBB.


Kata dia, dunia sudah berusaha mendorong rezim Kim Jong Un melakukan hal yang benar, tetapi sekarang berusaha menghentikannya karena Pyngyang memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang salah.

AS yang pertama kali mengeluarkan rancangan resolusi yang menyerukan pelarangan penuh ekspor minyak ke Korea Utara dan pembekuan aset Kim Jong Un, Partai Pekerja dan pemerintah Korea Utara. Kemudian, AS mengajukan rancangan lain yang menghilangkan embargo minyak secara penuh, pembekuan aset, larangan perjalanan untuk Kim dan memperlunak penggunaan bahasa untuk isu lain.

"Ini adalah langkah terkuat yang pernah diterapkan terhadap Korea Utara," kata Haley.

Rusia dan China, mitra dekat Korea Utara, memiliki hak veto sebagai anggota tetap Dewan Keamanan. Mereka telah menyatakan skeptis atas usulan sanksi tersebut. Namun, China akhirnya mendukung resolusi tersebut.

"China secara konsisten berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi semenanjung Korea, menuju perdamaian dan stabilitas semenanjung dan penyelesaian masalah melalui dialog dan konsultasi," kata Duta Besar China untuk PBB, Liu Jieyi, setelah pemungutan suara.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menjelaskan mengapa negaranya mendukung resolusi tersebut. Ia katakan, Rusia tidak menerima klaim DPRK untuk menjadi negara nuklir dan telah mendukung semua resolusi dewan keamanan yang menuntut diakhirinya program rudal nuklir Pyongyang untuk kepentingan de-nukleariisasi Semenanjung Korea.

"Karena itu, kami mendukung dan mendukung sanksi yang terkandung dalam resolusi yang ditujukan untuk memaksa DPRK memenuhi tuntutan Dewan Keamanan," katanya.

Sanksi tersebut tentu disambut baik oleh Jepang yang lautnya pernah kejatuhan rudal Korea Utara. Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan kepada media lokal pada hari Selasa, bahwa mereka memberlakukan tekanan tingkat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Korea Utara.

Secara khusus, resolusi ini akan menghasilkan penurunan 30 persen dalam total impor minyak Korea Utara dengan memotong lebih dari 55 persen produk minyak sulingan yang menuju ke Korea Utara.

"Minyak adalah darah dari kehidupan dan usaha Korea Utara untuk membangun dan mendanai senjata nuklir," kata Haley di kesempatan terpisah.

Sanksi baru juga akan melarang ekspor tekstil dari Korea Utara. Tercatat pada tahun 2016, rezim Korea Utara memperoleh US$ 760 juta melalui penjualan tekstil dan menjadikannya sektor ekonomi terbesar yang belum disentuh Dewan Keamanan PBB.

Selain itu, mencegah pekerja Korea Utara di luar negeri mendapatkan upah yang membiayai rezim Korea Utara, yang jumlahnya lebih dari US$ 500 juta setiap tahun, selain mengurangi investasi asing, transfer teknologi dan kerja sama ekonomi lainnya.

Langkah-langkah tambahan juga dimasukkan untuk membatasi kemampuan Korea Utara menyelundupkan produk seperti batu bara dan besi, terutama di laut lepas. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya