Berita

Bamsoet

Hukum

Bamsoet: Negara Keluarkan Dana Besar Untuk KPK, Fokuslah Ke Kasus-Kasus Besar

MINGGU, 10 SEPTEMBER 2017 | 22:35 WIB | LAPORAN:

Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo mengapresiasi langkah KPK memberantas korupsi selama ini. Namun, agar lebih efektif menyelamatkan uang negara, dia menyarankan KPK berkonsentrasi pada kasus-kasus besar. Untuk yang kecil-kecil, biarkan Polisi yang menangani.

Pesan ini disampaikan Bamsoet, sapaannya, saat peluncurkan buku "Ngeri Ngeri Sedap" di Cafe Leon, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, (Minggu, 10/9). Buku tersebut merupakan karya ke-13 Bamsoet.

Peluncuran buku ini sangat meriah dan ramai. Tokoh dan pejabat negara ramai-ramai hadir. Di antaranya Kapolri Jenderal Tito Karnavia, Menkumham Yasonna H Laoly, Jaksa Agung M Prasetyo, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin, Sekjen Golkar Idrus Marham, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, dan para anggota Komisi III serta Pansus Hak Angket KPK.


Kata Bambang, untuk operasional KPK, negara sudah mengeluarkan dana besar. Maka, sebaiknya KPK menangani kasus-kasus besar. "Berantaslah yang besar-besar. Untuk yang kecil-kecil, biarkan Polisi. Nanti akan ada Densus Tipikor (Polri)," serunya.

Kasus-kasus besar yang yang dimaksud Bambang antara lain skandal dana talangan Bank Century, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), mafia pajak, dan mafia Migas. Dia ingin kasus-kasus ini segera tuntas dan kerugian negara yang jumlahnya triliuan rupiah bisa segera dikembalikan. "Jangan nangkepin yang cuma jutaan rupiah. Kalau nangkap yang kecil-kecil itu namanya nembak nyamuk dengan meriam," imbuhnya.

Mengenai bukunya, Bambang menyebut, judul "Ngeri Ngeri Sedap" diambil dari istilah yang dipopulerkan almarhum Sutan Bhatoegana. Dia menganggap, istilah itu cocok untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Makanya, dia tuangkan khusus dalam buku setebal 576 halaman.

"Judul buku ini menurut saya sangat relevan dan kontekstual dengan kondisi saat ini. Kita bisa melihat bahwa Presiden Jokowi dan para menterinya terus menunjukkan kerja keras membangun negeri ini. Gerak langkah Pemerintah telah menunjukkan harapan. Tapi, di saat yang sama, kita melihat suara ketidakpuasan dari sejumlah elemen masyarakat," papar politisi Golkar ini.

Kata "ngeri" dalam buku tersebut, kata Bambang, menggambar kondisi kecemasan atas munculnya isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), adanya elemen yang anti-Pancasila, membengkaknya utang negara, dan banyaknya pejabat yang terlibat korupsi. Sedangkan kata "sedap" menggambar keberhasilan pembangunan yang dilakukan Presiden Jokowi. Di antaranya, membangun 2.225 kilometer jalan nasional, membangun 132 kilometer jalan tol, membangun rel kereta api sepanjang 450 kilometer, membangun 41 pelabuhan komersil, mewujudkan BBM satu harga, dan meningkatkan rasio elektrifikasi atau pemerataan sambungan listrik.

Para tokoh yang hadir di acara itu ramai-ramai memuji Bamsoet. Dia dianggap sebagai politisi langka dan piawai. "Beliau sosok yang jarang dan langka karena serba bisa," puji Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Buku tersebut, kata Tito, menunjukkan keluasan wawasan Bamsoet. Sebab, yang dibahas hampir semua masalah. Mulai dari politik, ekonomi, hukum, sampai sosial budaya. "Ini yang membuat saya takut, karena tahu segalanya. Untungnya beliau memiliki interpersonal skill yang baik dan mudah bergaul dengan siapa saja," pujinya lagi.

Jaksa Agung M Prasetyo mengaku iri dengan Bambang. Sebab, di dalam kesibukannya sebagai Dewan dan pengusaha, Bambang begitu produktif dalam menulis. Tidak tanggung-tanggung, sudah 13 buku yang ditulisnya. "Tidak banyak yang punya bakat seperti Mas Bambang," ucapnya.

Menkumham Yasonna H Laoly memuji cara bergaul Bambang. Kata dia, Bambang adalah seorang kolektor senjata dan seorang yang suka motor gede, tapi memiliki sentuhan kemanusiaan yang hebat. "Beliau ahli nembak, tapi pandai bersahabat," ucapnya.

Sekjen Golkar Idrus Marham menyebut, buku Bamsoet itu membahas begitu banyak masalah. Karena luasnya yang dibahas, dia menganggap Bambang sudah melebihi tingkat pendidikan S3. "Mungkin ini sudah levelnya ‘S campur’," selorohnya.

Di akhir acara, buku ini dibedah oleh para tokoh dan pakar. Mereka adalah pengamat politik Prof Tjipta Lesmana, eks Menko Kemaritiman Rizal Ramli, ekonom Dradjad Wibowo, pengamat politik Yunarto Wijaya, dan pengamat parlemen Sebastian Salang. [zul]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya