Berita

Gadis Papua Yang Mendapat Beasiswa ke RRT

RRT, Kiblat Baru Rakyat Papua

MINGGU, 10 SEPTEMBER 2017 | 07:58 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

RAKYAT Papua selama ini dikenal lebih banyak 'menoleh' ke negara tetangga sekitar. Apakah itu negara maju seperti Australia dan Selandia Baru. Atau bahkan tetangga terdekat Papua Nugini dan negara-negara serumpun lainnya di kawasan Pasifik.

Hal ini terjadi karena faktor "proximity" ataupun geo-politik.

Namun di tahun 2017 ini, terjadi sebuah perubahan yang cukup menarik yang caranya pun berlagsung secara diam-diam.


Cara pandang rakyat dan birokrat Papua, berrevolusi secara intelektual. Tanpa banyak gembar-gembor, rakyat dari provinsi paling Timur dari Indonesia itu, telah menunjukkan ketertarikannya pada negara lain - yang letaknya lebih jauh dari Australia dan Selandia Baru apalagi tetangga terdekatnya Papua Nugini.

Puluhan mahasiswi dan mahasiswa Papua memilih belajar, memperdalam ilmu pengetahuan dan wawasan mereka ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

Perubahan ini disebut cukup menarik. Karena untuk bisa diterima di lembaga pendidikan di RRT, mereka harus bisa berbahasa Mandarin. Sementara Mandarin sendiri, disebut-sebut salah satu bahasa yang tidak mudah mempelajarinya.

Selain itu, selama ini Bahasa Mandarin indentik dengan bahasa yang hanya oleh dan dari orang-orang berkulit sawo matang saja yang bisa atau terbiasa menggunakannya.

Dengan perubahan ini, mungkin Bahasa Mandarin akan mirip dengan Bahasa Inggris. Perubahan yang terjadi di Amerika Serikat lebih dari 200 tahun lalu. Tadinya bahasa Inggris dikenal hanya digunakan oleh bangsa kulit putih. Tapi seiring dengan terjadinya migrasi bangsa-bangsa Afrika dari benua Afrika Hitam, Bahasa Inggris kemudian ikut populer di kalangan bangsa yang disebut "Afro-American".

"Saya sudah tes, mereka semua sudah bisa berbahasa Mandarin," puji Dahlan Iskan, Pendiri dan Pembina ITCC (Indonesia Tiongkok Cultural Center), saat memberi sambutan di acara pelepasan, Jumat petang 8 September 2017 di Surabaya.

Memang yang menperoleh beasiswa dari yayasan yang didirikan Raja Media dari Surabaya ini, tidak 'sendirian'. Mereka merupakan bagian dari 360 anak muda yang diberi beasiswa oleh ITCC. Para mahasiwa dan mahasiswi lainnya, berasal dari berbagai lembaga pendidikan lainnya yang berasal dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Papua) dan sejumlah pesantren pilihan.

Upacara pelepasan ditandai dengan sambutan oleh Ny. Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Isteri mendiang Presiden keempat RI tersebut, begitu bersemangat memberi pembekalan kepada para pemuda-pemudi Indonesia yang mendapat kesempatan belajar ke RRT.

"Di Al-Quran sudah disebut, untuk mencari ilmu, carilah sampai ke negeri Cina," ujarnya antusias, sekalipun berada di kursi roda.

Seremoni pelepasan berlangsung dalam suasana yang cukup meriah. Selain ditandai dengan suguhan berbagai tari tradionional dari Aceh, Padang, Sunda, Dayak, Jawa dan Papua, seremoni diisi oleh musik orchestra. Yang unik, para pemusik yang berasal dari sebuah pesanten milik NU ini, para wanitanya semua mengenakan hijab.

Sementara ketika mengiringi tarian asal Papua dengan lagu 'Sajojo', orchestra ini mampu 'menggetarkan' gedung Gelanggang Olah Raga Basket DBL, yang menyatu dengan kantor pusat harian "Jawa Pos".

Kemeriahan semakin bertambah, karena Dahlan Iskan berhasil mengajak Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie, untuk 'berjoged' bersama para pejabat daerah dari mana para mahasiswa-mahasiswi berasal. Misalnya ada Bupati Jayapura, Ketua DPRD Toraja atau Bupati Sambas.

Yang terakhir ini disebut oleh Dahlan Iskan sebagai sosok manusia Indonesia yang 'komplet'. Karena dia belajar, menunut ilmu di Pesantren, melanjutkan pendidikan tentang Islam di Madina, Arab Saudi. Lalu setamat dari Arab Saudi, di bekerja di Uni Emirat Arab.

Dia merupakan satu-satunya bupati yang hafal Al-Quran.

Secara implisit Dahlan Iskan menggambarkannya sebagai seorang muslim yang utuh.

Di mata Dahlan Iskan sang bupati tidak 'alergi' kepada apa yang berbau Cina. [***]

Derek Manangka
Penulis adalah wartawan senior

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya