Berita

Joko Widodo/net

Politik

Di Reuters: Jokowi Berpuas Diri Di Bawah Rasa Aman Yang Palsu

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 | 17:33 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Perjalanan pemerintahan Joko Widodo tetap mendapat perhatian dari media internasional. Dalam pengamatan di beberapa bulan terakhir, sang presiden cukup alot bergelut dengan tantangan besar di bidang politik dan konflik bernuansa agama yang paling serius selama dua dekade terakhir di Indonesia.

Namun, rangkaian rintangan yang telah dilalui tidak akan ada apa-apanya dibanding "badai" yang bakal dihadapi Jokowi dalam beberapa waktu ke depan.

Minggu lalu (3/9), Reuters mempublikasikan sebuah artikel yang mengangkat isu tantangan ekonomi di depan Jokowi. Media tersebut mengakui bahwa popularitas Jokowi mendekati rekor tertinggi. Jokowi juga telah mengukuhkan otoritasnya terhadap koalisi pro pemerintah, parlemen dan lembaga keamanan.


Tetapi, setelah menegaskan keberanian politiknya, Jokowi akan menghadapi tantangan dari sektor ekonomi yang tidak bisa diatasi dengan cara-cara biasa. Isu inilah yang bisa berdampak besar pada peluangnya melanjutkan periode kedua lewat Pilpres 2019.

Reuters mewawancarai seorang pejabat senior di Pemerintahan Jokowi yang mengaku khawatir jika fokus kerja sang presiden terganggu oleh "pertempuran politik" yang membuatnya teralih dari persoalan krusial ekonomi.

Pejabat tersebut bahkan mengakui kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah selama ini cukup buruk dan akan berisiko besar jika tidak segera diperbaiki. Ia dengan mudah melihat pertumbuhan PDB menurun dan ada tekanan dari masyarakat untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lesu.

Menurut sebuah survei bulan Juni, tulis media yang bermarkas di London tersebut, hampir 60 persen responden merasa puas dengan kinerja Jokowi, dan hampir mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Namun jajak pendapat tersebut juga menunjukkan ekspektasi tinggi bahwa Jokowi akan menghidupkan kembali ekonomi yang tidak bersemangat.

Disebutkan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia telah turun sekitar 5 persen selama dua tahun terakhir, terlalu rendah untuk mengeluarkan negara dari situasi middle-income trap, terutama karena konsumsi domestik yang pernah menjadi mesin ekonomi negara kini sangat lemah dan pertumbuhan pinjaman bank sangat lamban.

Peneliti politik dari Pusat Penelitian Saiful Mujani, Djayadi Hanan, mengatakan, Jokowi memberi amunisi kepada oposisi jika dia tidak segera melakukan perbaikan ekonomi. Tentu saja hal itu akan merugikan Jokowi untuk pertarungan politik 2019.

Penurunan suku bunga yang tidak terduga pada bulan lalu seolah menunjukkan perjuangan pemerintah untuk mengangkat pertumbuhan adalah sia-sia. Meskipun diakui juga bahwa ada inisiatif pemerintah, seperti program amnesti pajak, dorongan terhadap infrastruktur, dan serangkaian peraturan yang dirancang agar bisnis lebih mudah dilakukan. Yang menjadi perhatian serius juga adalah defisit anggaran sudah mendekati ambang batas. Dalam hal ini, kekuatan parlemen dapat menjatuhkan Jokowi jika dia terus membiarkan defisit berjalan melewati batas.

Reuters juga mengutip analis ekonomi dari Bank Central Asia, David Sumual, yang menyebut masyarakat kian malas untuk berbelanja. Hal ini disebabkan kenaikan tarif listrik dan lambannya subsidi kepada petani yang telah melemahkan daya beli rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah. Sementara itu, kelompok berpenghasilan tinggi khawatir pemerintah terus mendorong reformasi pajak yang agresif yang akan membuat keuntungan mereka berkurang drastis.

Dua pejabat negara yang diwawancara bahkan mengatakan bahwa mereka khawatir Jokowi tidak berkomitmen terhadap retorika mengurangi ketidaksetaraan pendapatan dan membuat pembebasan lahan lebih mudah untuk mempercepat proyek infrastruktur.

Langkah yang perlu diambil Jokowi sekarang adalah berusaha keras agar pertumbuhan ekonomi semakin tinggi di tahun depan, sehingga situasi akan aman saat ia berkampanye untuk pemilihan presiden 2019.

Jokowi yang menghabiskan enam sampai delapan bulan terakhirnya untuk melawan kekuatan oposan, menunjukkan bahwa dia sangat mengendalikan situasi dan menjadi semakin dewasa sebagai politikus. Tapi, dominasi politik semacam itu disebut hanya akan memberikan Jokowi rasa aman yang palsu, seperti dikatakan seorang pejabat senior.

Ditegaskan bahwa sisi gelap keberhasilan politik Jokowi selama ini adalah sektor ekonomi. Dan ancaman terbesar bagi Jokowi sendiri adalah kebiasaan terlalu cepat puas diri.  [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya