Berita

Dirjen Hubla/net

Hukum

PPATK: Gratifikasi Menggunakan ATM Dengan Nama Orang Lain Bukan Barang Baru

SELASA, 29 AGUSTUS 2017 | 20:52 WIB | LAPORAN:

Terungkapnya modus pemberian suap dan gratifikasi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atas nama pihak lain kepada Dirjen Perhubungan Laut (Dirjen Hubla), Antonius Tonny Budiono menjadi babak baru dalam membongkar aliran dana yang diterima penyelenggara negara.

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengakui cara pemberian gratifikasi maupun suap melalui ATM kepada penyelenggara negara sudah lama terjadi.

Menurutnya langkah tersebut memudahkan oknum penyelenggara negara untuk menikmati uang gratifikasi tanpa harus was-was terdeteksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun PPATK.


Namun demikian, bagaimanapun upaya-upaya penyamaran gratifikasi dilakukan, akan tetap terditeksi. Salah satunya dengan sejumlah aset yang dimiliki penerima gratifikasi.

"Menggunakan ATM kan sudah lama sebetulnya. Makanya nanti kami mau kembangkan itu. Seseorang yang punya posisi akan diperhatikan. Di mana-mana kalau orang mau gratifikasi, bisa melakukan itu," ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Kemanan, Jakarta Pusat, Selasa (29/8).

Seperti diketahui, Tonny ditangkap KPK lantaran diduga menerima suap senilai Rp 20 miliar dari Komisari PT Adhi Guna Keruktama, Adhiputra Kurniawan.

Suap itu berkaitan dengan proyek pengerukan di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang Jawa Tengah dan perizinan proyek-proyek lain di Dirjen Hubla.

Dalam pemeriksaan, tim KPK menemukan uang yang tersimpan di 33 tas isi uang dengan total Rp 18,9 juta dengan rincian mata uang berbeda, dan empat ATM yang terisi Rp 1,174 miliar. Dengan demikian total uang suap yang diterima Tonny senilai Ro 20 miliar.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan ada modus baru yang digunakan untuk memberikan uang suap pada Tonny, yakni dengan memberikan ATM atas nama orang lain. ATM itu diberikan oleh Komisaris PT Adhi Guna Keruktama, Adiputra Kurniawan.

Basaria menambahkan dari empat ATM tersebut dipakai Tonny untuk melakukan transaksi.

"Dalam rekening bank mandiri terdapat sisa saldo Rp 1,174 miliar. Sehingga total uang yang ditemukan di Mess Perwira Dirjen Hubla adalah sekitar Rp 20 miliar,"  ujar Basaria.[san]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya