Berita

Din Syamsuddin/Net

Wawancara

WAWANCARA

Din Syamsuddin: Kalau Semua Aliran Kepercayaan Dianggap Agama, Di Indonesia Bisa Ribuan Agama Nanti

SENIN, 28 AGUSTUS 2017 | 08:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Ketua Umum PP Muhammadiyah ini tak sependa­pat jika kepercayaan selam sunda wiwitan dikatakan se­bagai agama. Din Syamsuddin mengatakan, kriteria agama dibatasi secara ilmiah. Kalau semua kepercayaan dianggap sebagai agama, kata Din, bisa ribuan agama di Indonesia ini nantinya. Oleh karenanya tak lazim jika kepercayaan selam sunda wiwitan dimasukan dalam kolom agama di KTP.

Selain menanggapi tuntutan penganut kepercayaan selam sunda wiwitan, Din juga me­nanggapi kasus penipuan yang dilakukan biro perjalanan um­roh dan haji, First Travel yang mengorbankan hampir 60 ribu jamaah. Berikut penuturan leng­kap Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin :

Masyarakat Baduy Dalam Kampung Cibeo penganut kepercayaan selam sunda wiwitan baru-baru ini menuntut agar kepercayaan mereka dimasukan dalam kolom agama di KTP. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?
Menurut saya itu bukan agama. Bukan dalam pengertian agama yang secara ilmiah.Berdasarkan wahyu atau berdasarkan semacam ilham. Kemudian membentuk kitab suci, ada pembawanya, ada sistem ritusnya. Apakah agama yang sudah ada, yang resmi, yang diakui oleh negara dan masyarakat, ataukah keper­cayaan-kepercayaan masyarakat? Kalau kepercayaan-kepercayaan masyarakat, apalagi ada akar pada agama tertentu, itu tidak dapat dipahami sebagai agama.

Menurut saya itu bukan agama. Bukan dalam pengertian agama yang secara ilmiah.Berdasarkan wahyu atau berdasarkan semacam ilham. Kemudian membentuk kitab suci, ada pembawanya, ada sistem ritusnya. Apakah agama yang sudah ada, yang resmi, yang diakui oleh negara dan masyarakat, ataukah keper­cayaan-kepercayaan masyarakat? Kalau kepercayaan-kepercayaan masyarakat, apalagi ada akar pada agama tertentu, itu tidak dapat dipahami sebagai agama.

Terus menurut Anda, apa kepercayaan mereka bisa dituliskan di kolom agama pad KTP?
Coba tanya pada mereka. Apakah mereka muslim atau bukan muslim, coba tanya dulu. Karena kriteria agama itu terba­tas secara ilmiah. Kalau semua seperti itu dianggap agama, wah bisa ribuan agama (di Indonesia) nanti.

Oh ya, apa pandangan Anda melihat kasus penipuan yang dilakukan pemilik First Travel?
Sangat-sangat memprihatinkan,merugikan sekian banyak jemaah dengan dana umat ham­pir mencapai Rp 1 triliun. Oleh karena itu, harus dilakukan tin­dakan berat terhadap pimpinan First Travel. Saya meyakini ada niat penipuan.

Lantas menurut Anda, sikap pemerintah seharusnya ba­gaimana?
Pemerintah tidak boleh tinggal diam, tidak boleh lepas tangan. Jangan menunggu dilakukan penindakan. Ini berbeda dengan agen-agen pariwisata lain, ini bukan pariwisata, bukan wisata, walaupun ada dimensi wisata, tetapi ini adalah ibadah. Jangan kemudian ladang ini dijadikan ladang komersial.

Anda melihat apa sih pe­nyebabnya hingga kasus seperti ini terulang lagi?
Saya menilai ini terjadi karena lemahnya pengawasan bahkan mungkin ada pengabaian, dan ada pembiaran.

Sehingga hal-hal seperti ini dibiarkan, begitu ada masalah besar ribut semua. Seyogyanya begitu mengetahui jamaah un­tuk Ramadan (umrah) tidak bisa berangkat, maka jangan menunggu bulan Ramadan (Idul Adha) selesai baru dilakukan penindakan.

Lalu bagaimana dengan adanya promo yang diberikan oleh First Travel kepada calon jamaahnya?
Itu unsur penipuannya, ada promo harga kaki lima, fasilitas bintang lima. Seharusnya kalau sudah ada seperti itu pemerintah bisa peka.

Apa harus dibuat aturan tarif atas bawah untuk biaya umroh dari pemerintah?
Ya saya setuju itu (tarif atas bawah, red). Harus diberi batasan agar tidak jor-joran. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya