Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Semangat Perlawanan Terhadap Penjajahan

MINGGU, 27 AGUSTUS 2017 | 08:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

FAKTA sejarah membuktikan secara tak terbantahkan bahwa mereka yang secara kualitas dan kuantitas paling gigih melakukan perlawanan terhadap angkara murka kolonialisme kaum penjajah adalah masyarakat Islam. Sebagai contoh adalah perlawanan terhadap penjajahan di persada Nusantara dipelopori oleh seorang tokoh Islam yaitu Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo.

Sultan Agung
Sultan Agung adalah sultan ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara pada saat itu. Pada tahun 1614 VOC yang pada saat itu masih bermarkas di Ambon mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak mentah-mentah.  

Pada tahun 1619 VOC berhasil merebut Jayakarta di bagian Barat pulau Jawa dan mengganti namanya menjadi Batavia. Markas mereka pun dipindah ke kota itu.  Bulan April 1628 Kyai Rangga bupati Tegal  dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu dari Mataram.

Pada tahun 1619 VOC berhasil merebut Jayakarta di bagian Barat pulau Jawa dan mengganti namanya menjadi Batavia. Markas mereka pun dipindah ke kota itu.  Bulan April 1628 Kyai Rangga bupati Tegal  dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu dari Mataram.

Tawaran tersebut ditolak pihak VOC sehingga Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang. Maka, pada 27 Agustus 1628 10.000 prajurit Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa, bupati Kendal tiba di Batavia.  

Perang besar terjadi di benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami kehancuran karena kurang perbekalan. Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun berikutnya. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Total semua 14.000 orang prajurit.

Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang  dan  Cirebon. Namun pihak VOC berhasil memusnahkan semuanya. Walaupun kembali mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung berhasil membendung Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan wabah penyakit kolera melanda Batavia.

Gubernur jenderal  VOC J.P. Coen meninggal menjadi korban wabah tersebut.  Atas jasa-jasanya sebagai pelopor perlawanan terhadap kaum penjajah , Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden  No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.  

Rekam Jejak
Gelora semangat perlawanan Sultan Agung terhadap kaum penjajah dilanjutkan oleh para tokoh Islam seperti Amangkurat I, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien sampai ke Bung Tomo yang di Surabaya memimpin perlawanan terhadap tentara sekutu Belanda yang tidak sudi mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia meski sudah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dapat dimengerti bahwa rekam jejak perlawanan umat Islam terhadap kaum penjajah menumbuhkan kebencian kaum penjajah terhadap umat Islam. Namun sungguh layak disayangkan apabila kini setelah 72 tahun Indonesia dimerdekakan dari belenggu penjajahan, kebencian kaum penjajah terhadap Islam secara tidak sadar diwarisi oleh segelintir warga bangsa Indonesia.

Seharusnya setelah berhasil mengusir kaum penjajah sebagai musuh bangsa Indonesia, di masa kini jangan ada warga bangsa Indonesia memusuhi sesama warga bangsa Indonesia sendiri.[***]

Penulis adalah pembelajar sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan



Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya