Berita

Dunia

Belgia Selidiki 189 Kasus Bibit Terorisme Dalam Negeri

SABTU, 26 AGUSTUS 2017 | 14:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jaksa Belgia membuka lebih dari 20 penyelidikan baru terhadap sejumlah orang yang dicurigai melakukan tindak pidana terorisme setiap bulannya sejak awal tahun ini.

Dengan demikian, hingga Agustus ini, setidaknya ada 189 penyelidikan yang dilakukan terhadap mereka yang dicurigai melakukan tindak pidana terorisme.

Dikabarkan Russia Today akhir pekan ini, merujuk pada media Belgia, fokus perhatian dalam penyelidikan tahun ini berbeda dari penyelidikan tahun-tahun sebelumnya pada ekstrimis yang meninggalkan Belgia untuk berperang bersama kelompok teroris di Timur Tengah. Fokus penyelidikan sepanjang tahun ini adalah pada individu atau kelompok di dalam negeri yang tidak pernah pergi ke Suriah ataupun Irak, namun menjadi bibit ekstrimis.


Investigasi juga dibuka dalam kasus di mana warga Belgia menjadi korban serangan teroris di negara lain, seperti Spanyol, Turki atau Swedia. Pihak berwenang Belgia mengatakan bahwa risiko serangan teroris di negara tersebut tetap tinggi.

Semua petugas penegakan hukum dan keamanan Belgia, mulai dari  polisi hingga dinas keamanan negara bekerja pada penanganan terorisme dalam negeri dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang ancaman teroris yang mungkin terjadi.

Mereka menambahkan bahwa Kantor Kejaksaan Federal baru-baru ini diperkuat melalui peningkatan jumlah hakim dari 24 menjadi 32, dan 12 di antaranya sekarang bekerja hanya untuk kasus-kasus yang terkait dengan terorisme.

Belgia dilanda salah satu serangan teroris terburuk di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca serangan Maret 2016 di mana ada serangan bom bunuh diri di Bandara Brussels dan metro kota tersebut menewaskan 32 orang dan membuat lebih banyak korban terluka.

Belgia juga memiliki populasi migran yang cukup besar dan merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Penanggulangan Terorisme yang berbasis di Den Haag April 2016 lalu, jumlah pejuang per kapita terbesar yang tersisa untuk bergabung dengan teroris di Irak dan Suriah. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya