Berita

Stephen Hawking/Reuters

Dunia

Ini Kritik Stephen Hawking Soal Sistem Layanan Kesehatan Inggris

SABTU, 19 AGUSTUS 2017 | 16:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Fisikawan Stephen Hawking mengkritik pemerintah Inggris yang dinilainya telah menyebabkan krisis dalam pelayanan kesehatan oleh National Health Service (NHS) yang dikelola negara.

Dalam tulisan yang dimuat di surat kabar Guardian, kosmolog Inggris yang didiagnosis menderita penyakit motor neuron itu juga menuduh menteri kesehatan Inggris memilih bukti ilmiah untuk membenarkan kebijakan yang dikeluarkannya.

"Perawatan yang saya terima sejak didiagnosis menderita penyakit neuron motorik saat menjadi siswa pada tahun 1962 telah memungkinkan saya menjalani hidup seperti yang saya inginkan, dan berkontribusi pada kemajuan besar dalam pemahaman kita tentang alam semesta," tulis Hawking.


Didirikan pada tahun 1948, NHS adalah sumber kebanggaan besar bagi banyak warga Inggris yang dapat mengakses perawatan gratis. Namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi pengetatan anggaran serta peningkatan biaya perawatan yang lebih mahal dan populasi manula yang meningkat telah menyebabkan sistem terseut mengalami tekanan finansial.

Hawking menilai bahwa sistem kesehatan tersebut harusnya dilindungi dari sistem perumusan laba bergaya AS. Ia menyebut bahwa NHS adalah landasan masyarakat Inggris, namun krisis kali ini diciptakan oleh keputusan politik.

Menurutnya, sistem tersebut saat ini juga menghadapi konflik antara kepentingan perusahaan multinasional yang didorong oleh keuntungan dan oposisi publik terhadap peningkatan privatisasi.

"Di AS, di mana mereka dominan dalam sistem perawatan kesehatan, perusahaan-perusahaan ini menghasilkan keuntungan yang sangat besar, perawatan kesehatan tidak universal, dan ini sangat mahal untuk hasil yang diterima pasien daripada di Inggris," tulisnya.

"Kami melihat keseimbangan kekuatan di Inggris adalah dengan perusahaan perawatan kesehatan swasta, dan arah perubahannya menuju sistem asuransi bergaya AS," sambung Hawking seperti dimuat Reuters. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya