Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (20)

Melting Pot Melahirkan Civil Society

SABTU, 19 AGUSTUS 2017 | 08:13 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MUNGKIN para founding fathers kita tidak pernah membayangkan bahwa apa yang telah ditetapak secara mufakat berupa penentuan dasar negara melahirkan In­donesia indah seperti saat ini. Sementara negara-neg­ara muslim terbesar menga­lami krisis konseptual pasca kemerdekaannya, tetapi Indonesia sudah menganggap selesai segala sesuatu yang ber­hubungan dengan dasar kebangsaan. NKRI su­dah disepakati sebagai bentuk final bagi bang­sa Indonesia.

Kehadiran Pancasila sebagai melting pot ternyata bermuara pada terbentuknya masyarakat madani (baca: civil society) yang amat elegan bagi bangsa ini. Civil society di sini mengandung arti kecenderungan untuk mewujudkan nilai-nilai islami lebih dominan sebagai kosekuensi popu­lasi umat Islam yang menduduki posisi mayori­tas mutlak. Bukannya mengedepankan legal formalism sebagai negara Islam sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab Fikih Siyasah. Pe­nampilan civil society dalam arti tersebut leb­ih membuka diri untuk mengakomodir semua unsur yang ada dengan tetap memperhatikan unsur-unsur istimewa di dalam masyarakat. Kelompok inilah yang mempopulerkan istilah "masyarakat madani" sebagai wacana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara lima ta­hun terakhir ini. Kelompok ini terus mengkristal sehingga menjadikan NKRI semakin kokoh.

Bangsa ini sangat berutung karena Islam yang dikembangkan di dalamnya ialah Islam yang dominan beraliran Ahlu Sunnah dengan mazhab fikih Syafi’i yang lebih dominan. Aliran dan mazhab ini berperang penting juga di da­lam mewujudkan keindonesiaan yang moderat. Namun bangsa ini tetap harus waspada karena intensitas pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia cenderung dipengaruhi mobilitas masyarakat yang semakin tinggi. Tingkat kes­ejahteraan masyarakat Indonesia semakin membaik, memungkinkan warganya mengirim anak-anak mereka studi ke luar negeri semi­sal ke Timur Tengah atau ke Eropa dan AS. Kehadiran manusia cerdas memiliki potensi besar untuk memberikan pengaruh ke dalam masyarakat, termasuk mempengaruhi pandan­gan keagamaan seperti aliran atau mazhab.


Doktrin dan daya tarik nuansa keagamaan tertentu yang dirasakan dan dialami di luar neg­eri bisa saja ikut menjadi faktor di dalam ak­tivitas alumni luar negeri tersebut. Apalagi ke­tika mereka belajar di luar negeri mendapatkan doktrin Khusus dari profesornya, seperti disiny­alir adanya kekuatan itu di dalam masyarakat. Jika demikian adanya, maka tidak ada cara terbaik selain memperkokoh pemahaman dan penghayatan warga bangsa terhadap filosofi Pancasila. Mereka perlu diperkenalkan secara komprehensif bahwa kelahiran Pancasila ada­lah rahmat bagi bangsa Indonesia, bukannya laknat, sebagaimana pernah diperkenalkan oleh kelompok tertentu di dalam masyarakat.

Masalah agama adalah salah satu faktor yang sangat sensitif di Indonesia. Ini dapat di­maklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang setia. Solidaritas agama biasanya mengalahkan ikatan-ikatan primordi­al lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antar umat beragama dalam kerangka negara kes­atuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. Pemberian wawasan keindo­nesiaan, termasuk di dalamnya falsafah bang­sa Pancasila dan UUD 1945, ditambah penge­nalan umum doktrin keagamaan yang dianut di Indonesia, perlu dilakukan. Jika anak-anak bangsa terjun bebas ke Barat atau ke Timur Tengah, apalagi dalam usia yang relative masih sangat muda, dikhawatirkan akan membawa pulang anasir-anasir tertentu, yang sadar atau tidak sadar dapat mengganggu ketenangan berbangsa dan bernegara.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya