Amerika Serikat yang terus menjatuhkan sanksi kepada Iran bisa membuat negara tersebut kembali menghidupkan program nuklirnya dalam hitungan jam.
Ancaman itu dikeluarkan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pernyataanya di hadapan parlemen, Selasa (15/8). Pernyataan itu dibuatnya sebagai tanggapan atas sanksi unilateral Amerika Serikat baru-baru ini.
"Mereka (AS) yang mencoba kembali ke bahasa ancaman dan sanksi adalah tahanan dari delusi masa lalu mereka," kata Rouhani.
"Jika mereka (AS) ingin kembali ke pengalaman itu, pasti dalam waktu singkat, bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tapi dalam skala jam dan hari, kita (Iran) akan kembali ke situasi kita sebelumnya yang jauh lebih kuat," sambungnya seperti dimuat BBC.
Bagi Iran, sanksi tersebut merusak perjanjian nuklir yang telah ditandatangani Iran dan negara-negara kekuatan dunia tahun 2015 lalu.
Namun Amerika Serikat menilai bahwa Iran telah melanggar resolusi PBB dengan uji coba misil nya. Padahal uji coba itu dirancang bukan untuk membawa ancaman melainkan untuk perdamaian.
Meski Amerika Serikat mengakui bahwa pengujian tersebut bukan merupakan pelanggaran langsung terhadap kesepakatan nuklir, namun negeri Paman Sam tetap memberlakukan sanksi terhadap 25 individu dan entitas yang terkait dengan program rudal dan kekuatan Pengawal Revolusi yang berkuasa.
Sanksi lebih lanjut yang menargetkan enam perusahaan Iran diumumkan pada akhir Juli setelah peluncuran roket Iran yang mampu menempatkan satelit ke orbit.
Tak berhenti di situ, awal Agustus ini, Trump menandatangani undang-undang yang disahkan oleh Kongres yang mewajibkan presiden untuk menjatuhkan sanksi kepada individu yang memfasilitasi program rudal balistik Iran,
Lebih lanjut Rouhani menanggapi bahwa dunia telah dengan jelas melihat Trump bukan merupakan mitra yang baik atau negosiator yang andal. Sejumlah hal yang bisa dilihat adalah dengan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris dan membalikkan kesepakatan dengan Kuba.
[mel]