Berita

Foto/Net

Bisnis

Butuh Stabilitas Politik Buat Pacu Kerja Ekonomi

Kelas Menengah Kencangkan Ikat Pinggang
SELASA, 15 AGUSTUS 2017 | 09:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti pemerintah agar menjaga stabilitas politik menjelang pemilu 2019. Hal itu dinilai sangat diperlukan untuk menjaga kerja investasi di tengah trend warga kelas menengah yang tengah pelit belanja.

Kepala BPS Kecuk Suhari­yanto mengungkapkan, aksi investor sangat dipengaruhi oleh cara pandangnya terhadap perekonomian global, perekono­mian domestik, hingga kondisi politik. Menurutnya, menjelang pesta demokrasi, menjaga stabilitas politik sangat penting untuk menjaga kerja ekonomi.

"Kalau politiknya aman-aman, investor akan dengan senang hati melakukan investasi. Tetapi kalau dia merasa uangnya tidak aman, ya sudah uangnya ditaruh di bank," kata Kecuk di Jakarta, kemarin.


Menurutnya, saat ini masyarakat kelas menengah ke atas cenderung menahan konsumsinya dan mengalihkan sebagian pendapatannya ke tabungan karena dipicu pandangannya terhadap ketidakpastian global.

"Mereka tidak yakin dengan kondisi perekonomian. Makanya, pertumbuhan konsumsi pada semester pertama tahun ini hanya melaju 4,95 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu 4,94 persen," urainya.

Kecuk menuturkan, pergelaran hajat politik sejatinya bisa men­dorong kinerja perekonomian. Sebab, biasanya menjelang pemilu, konsumsi masyarakat naik. Hal itu terlihat dari pemi­lihan kepala daerah serentak di 101 provinsi maupun kabupaten/kota pada 15 Februari lalu. Ge­laran tersebut membuat indikator Pengeluaran Konsumsi Lem­baga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNRPT) pada kuartal I-2017 tumbuh 8,02 persen secara tahunan atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen.

"Jika pemerintah mampu menjaga situasi kondusif, ge­laran pemilu bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi karena kinerja investasi dan konsumsi terjaga," ungkap Kecuk.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara juga mengingat­kan pentingnya menjaga iklim politik. Karena, dinamika politik memiliki dampak signifikan bagi perekonomian.

Dia mencontohkan hasil sur­vei konsumen Bank Indonesia (BI) periode Juli 2017. Menu­rutnya, pada periode itu tercatat ada penghentian belanja semen­tara dari kelompok masyarakat yang memiliki pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan karena mereka memilih wait and see melihat ekspektasi politik yang kurang baik.

"Mereka rata-rata sedang ber­puasa dari konsumsi karena me­lihat enam bulan ke depan me­masuki tahun politik, situasinya dinilai kurang membaik. Apalagi untuk sektor investasi," kata Bhima.

Perubahan Pola Konsumsi

Pemerintah tengah mengkaji dugaan penurunan daya beli masyarakat. Namun demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengimbau agar publik tidak hanya menjadikan ritel sebagai satu-satunya indikator untuk mengukur kemampuan daya beli masyarakat.

Dia menilai, saat ini telah terjadi perubahan pola kon­sumsi. Misalnya, dahulu orang menganggap membeli baju baru merupakan hal yang membanggakan. Namun, sekarang tidak. Orang lebih cenderung membelanjakan uangnya untuk kebutuhan lain seperti rekreasi atau gaya hidup lain.

"Selain itu, kelompok menengah atas mulai makin ter­biasa belanja pakai online," kata Darmin.

Sayangnya, diakui Darmin, belum ada data yang cukup me­madai untuk melihat lebih detail mengenai fenomena tersebut. Padahal, dengan data yang ada, pemerintah dapat menentukan arah kebijakan yang akan diam­bil selanjutnya.

Darmin mengaku tetap opti­mistis dengan masa depan ekonomi Indonesia di tengah daya beli yang rendah. Ditambah lagi pertumbuhan ekonomi pada kuar­tal I dan kuartal II yang relatif da­tar di angka 5,01 persen. Melihat data tersebut, Darmin menilai, masih realistis untuk meraih per­tumbuhan ekonomi di angka 5,2 persen hingga akhir tahun.

"Sekarang gini, sebetulnya semester II itu umumnya kegia­tan ekonomi lebih tinggi dibandingkan semester sebelumnya. Ya kenapa nggak (realistis). Bisa saja bergeraknya tidak langsung 5,4 persen, tapi kemudian makin tinggi, dan seterusnya," pungkas­nya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya