Berita

Politik

Yenny Wahid: Ujaran Kebencian Tak Boleh Kuasai Ruang Publik

SENIN, 14 AGUSTUS 2017 | 14:38 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

RMOL. Persoalan radikalisme dan gerakan terorisme bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI dan Polri. Semua warga negara mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengatasi radikalisme di masyarakat.

"Radikalisme adalah masalah kita semua. Sehingga semua kita mempunyai kewajiban yang sama mengatasi radikalisme, termasuk civil society," kata Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Yenny Wahid, saat menjadi pembicara simposium nasional yang dilaksanakan Taruna Merah Putih (TMP) di Balai Kartini, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta (Senin, 14/8).

Dalam panel pertama simposium nasional ini tema yang diangkat adalah 'Intoleransi, Ancaman Bagi Kebhinnekaan Dan Persatuan Bangsa." Selain Yenny Wahid, hadir sebagai pembicara Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Kanavian dan Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif.


Panel pertama ini dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari.

Menurut Yenny ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi radikal. Di antaranya ada perasaan teralienasi, kesenjangan ekonomi dan juga ujaran kebencian yang didasari dengan teks-teks keagamaan yang dimanipulasi.

"Ujaran kebencian tak boleh menguasi ruang publik ini. Ini bukan hanya tugas polisi tapi juga semua elemen masyarakat," ungkap Yenny.

Menurut Yenny, Indonesia memiliki dasar dan modal utama dalam mengangkal gerakan radikalisme, yaitu Pancasila. Pancasila merupakan jawaban dari berbagai persoalan bangsa saat ini.

"PM Inggris David Cameroon saja mengakui Indonesia hebat. Dari 200 juta penduduk cuma 500 yang ikut ISIS. Inggris dengan 2 juta penduduk, ada 5 ribu ikut ISIS. Cameron nanya resepnya, saya jawab karena Indonesia punya Pancasila," ungkap Yenny.

Yenny menegaskan bahwa Demokrasi Pancasila merupakan sintesa yang luar biasa. Pancasila juga merupakan jawaban atas persoalan multikulturalisme.

Dalam sambutannya, Ketua Umum TMP Maruarar Sirait mengatakan bahwa TMP selalu berdiri paling depan dalam membela Pancasila. Simposium ini, selain dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-72, juga dalam rangka mendukung segala upaya impelementasi Pancasila di berbagai bidang, seperti bidang politik da ekonomi. Karena itulah, simposium ini mengundang berbagai narasumber yang sangat otoritatif di bidang.

"Kita ingin membumikan terus Pancasila di Indonesia. Dalam bidang ekonomi misalnya kita mau aturan-aturan perekonomian yang berpihak pada rakyat kecil. Kesenjangan tak boleh diatasi dengan radikalisme, melainkan harus diatasi dengan pemerataan," ungkap Maruarar.

Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional papan atas. Di antara yang akan hadir sebagai pembicara adalah Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif,  Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid, Menteri Keuangan Sri Mulyani, pengusaha nasional Chairul Tanjung, Ketum KADIN Rosan P Roeslani, Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia, Presiden Inter Milan Erick Tohir, pengusaha muda teknologi perikanan Paundra Noorbaskoro, Walikota semarang, Hendrar Prihadi, Presiden BEM UI Muhammad Syaeful Mujab.

Ratusan orang dalam berbagai elemen hadir dalam acara ini yang sangat meriah ini. Di antaranya GMKI, KAMMI, PMKRI, HMI, IMM, GMNI, Hikmahbudhi, KMHDI, Pemuda Muhammdiyah, GP Ansor, KNPI dan lain-lain. Acara juga dihadiri sayap organisasi PDI Perjuangan seperti Repdem, Banteng Muda Indonesia, Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) dan lain-lain.

Selain itu, hadir juga organisasi sayap dari partai lain seperti Sapma Hanura, Matara PAN, AMPG Gokar dan Garda Nasdem. Hadir juga perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jakarta dan para Ketua OSIS dari berbagai sekolah. [ysa]


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya