Berita

Mukhneri Mukhtar/Dok

Wawancara

Di Expo Madrasah, Guru Besar UNJ Berbagi Metode Pengajaran Efektif

SENIN, 14 AGUSTUS 2017 | 12:52 WIB | LAPORAN:

Sistem pembelajaran di madrasah dipandang masih cenderung memaksakan dan menekankan pada prestasi akademik saja. Hal itu menyebabkan siswa dipaksa untuk menguasai semua mata pelajaran yang diajarkan di madrasah.

"Memang ini bukan hanya di madrasah, tetapi di sekolah-sekolah umum juga banyak begitu. Padahal mestinya tidak seperti itu. Siswa tidak boleh dicekoki semua pelajaran dan diminta harus menguasai semuanya. Jika dipaksakan seperti itu, boleh jadi nantinya siswa tidak bisa menguasa satu pun mata pelajaran," kata Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Prof. Dr. Mukhneri Mukhtar saat menjadi pembicara dalam acara Talk Show bertajuk 'Bangga Menjadi Siswa Madrasah' di arena Expo Madrasah, Gedung Prof. Amin Abdullah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pekan lalu.

Expo Madrasah sendiri merupakan bagian dari pagelaran Ajang Kreativitas Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang digagas Kementerian Agama, 7-12 Agustus 2017.


Talk Show yang dimoderatori wartawan asal Jakarta, Mohammad Ilyas Assaidy ini juga menghadirkan dua siswa berprestasi asal Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keduanya adalah Kholida Nailul Muna, siswi MAN III Bantul yang pada Juli lalu menyabet piala Piala Perak di ajang World Mathematic Invitation di Filipina serta Satria Widyanto, siswa MA Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, yang menyabet medali emas dalam OSN Fisika Riau, Juli lalu.

Kembali kata Prof. Mukhneri, semestinya siswa tidak dicekoki dan dipaksa menguasai semua mata pelajaran, melainkan diarahkan pada materi yang disenangi dan dikuasai, sehingga bisa sesuai dengan kemampuannya.

Mukhneri juga menjelaskan bahwa metode pengajaran sebaiknya tidak hanya difokuskan pada akademik saja. Ini mengingat bahwa siswa memiliki berbagai macam kemampuan yang berbeda-beda satu sama lain. Kemampuan-kemampuan itu tersebut menurut dia, tidak boleh diabaikan oleh pihak sekolah tetapi harus dikembangkan.

"Pendidikan di Barat seringkali menekankan pada fokus. Bukan berarti siswa di sana ketika di sekolah hanya diajarkan satu disiplin ilmu saja. Tetapi, ada spesifikasi pada bidang yang lebih diminati. Sehingga bagi masing-masing siswa di situ ada prioritas," jelasnya.

"Kemampuan siswa tentu tidak hanya akademik. Kemampuan bernyanyi, berolahraga, dan seterusnya juga mesti diperhatikan oleh sekolah. Bahkan sebisa mungkin difasilitasi untuk kemudian dikembangkan agar terus lebih baik."

Sementara itu, Satria dalam kesempatan ini memberikan beberapa tips yang dilakukannya sehingga bisa menggapai sukses. Salah satunya adalah kemauan untuk berkorban, menghabiskan waktu untuk bidang yang diminati. Ia pribadi menyukai fisika dan ilmu eksakta.

Lanjut Satria, selain tekun dan membiasakan diri dengan latihan juga yang sangat penting adalah pendekatan kepada Sang Pencipta.

"Kita jangan lupa berdoa karena tidak bisa kita hanya mengandalkan pendekatan dunia, harus ada pendekatan akhirat.Saya kira kelebihan madrasah dibanding sekolah umum, karena Madrasah selain kita belajar tentang pengetahuan umum, kita juga belajar hukum agama Islam. Bagaimana tata cara sholat dan seterusnya," kata Satria.

Hal senada diutarakan Kholida. Pelajar yang kini duduk di kelas XI MAN III Bantul ini mengatakan bahwa ketekunan dan membiasakan diri untuk terus berlatih membuahkan prestasi.

"Saya sering latihan mengerjakan soal-soal sampai tengah malam. Jadi kita harus terus merawat motivasi dan kemauan keras kita," tutur perempuan yang mengaku pernah mengikuti bimbingan matematika di salah satu madrasah tsanawiyah di Pamekasan Madura selama sepekan ini.[wid]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya