Berita

Foto/Net

Bisnis

Bursa RI Bakal Rontok, Modal Asing Pun Keluar

Dampak Konflik AS & Korut
SENIN, 14 AGUSTUS 2017 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jika Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) jadi perang, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh ekonomi Indonesia.

 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal rontok. Sedangkan modal asing terus keluar mencari negara yang lebih aman.

Ekonom Institute for De­velopment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhis­tira Adhinegara memandang, perselisihan kedua negara itu berdampak signifikan bagi per­ekonomian Indonesia.


"Memang cukup mengkha­watirkan kalau eskalasi konflik terus memuncak di Korea. Per­tama bisa dilihat dari sentimen di bursa saham. Jumat (11/08) se­mua saham di bursa Asia ditutup turun, IHSG misalnya turun 1,03 persen," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Bukan cuma itu. Bhima lebih khawatir, lantaran banyak in­vestor asing yang mulai mem­bawa uangnya dari bursa Asia ke Amerika dan Eropa, seperti Nasdaq, S&P500, ataupun Dow Jones. Di Indonesia sendiri, 60 persen saham dimiliki asing. Artinya, gelombang capital out­flow bakal mengguncang sektor keuangan.

Bhima menyebut, guncangan itu akan lebih keras. Mengingat surat utang negara 39 persen dikuasai asing. Arus modal yang masuk per Agustus pun hanya Rp 115 triliun, atau menyusut dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 137 triliun.

"Kalau kondisi memanas, aliran modal masuk akan ter­tahan. Investasi tahun 2017 terancam turun," sesal Bhima.

Peralihan investor, lanjut dia, juga akan masuk ke instrumen valuta asing (valas), terutama dolar. Hal inilah yang kemudian membuat rupiah anjlok hingga Rp 13.360 per dolar AS. Padahal pada minggu lalu, mata uang garuda berhasil nangkring di level Rp 13.333 per dolar AS.

Bhima juga menerangkan, dampak ekspor dan kontraksi pada pertumbuhan ekonomi. Ekspor yang belakangan ini pulih bisa kembali menyusut, terutama tujuan China dan Jepang karena jalur pelayaran logistiknya terganggu.

Menurut Bhima, pemerintah harus bersiap menggunakan strategi terburut (worts scenario) terhadap perekononian dalam negeri. Perluasan pasar ekspor juga harus segera dicari jika tidak ingin kesalip negara lain.

"Pengalihan tujuan ekspor bisa mulai dilakukan ke negara lain, seperti Afrika dan Timur Tengah. Kemudian otoritas moneter perlu terus mencermati dampak krisis di semenanjung Korea terhadap kurs rupiah dan pasar finansial. Apabila terus melemah, pasar saham bisa disuspend sementara untu menghindari capital outflow," terangnya.

VP of Market Research FXTM (perusahaan finansial) Jameel Ahmad memprediksi, kete­gangan Korut dan ASbelum menggoyahkan perekonomian Indonesia. Sebab itu, investor disarankan tidak perlu cemas.

Sekadar informasi, belakangan ini investor dunia mulai goyang dengan komentar panas petinggi kedua negara. Polemik itu dinilai memperlemah langkah investor untuk berinvestasi di tingkat yang berisiko, tetapi berdampak positif kepada instrumen aman seperti emas.

Meski begitu, Jameel pun menganggap, tidak wajar juga jika investor menutup mata dari perselisihan Korut dan AS. Hanya saja dia menyarankan jan­gan terlalu panik, dan melalukan hal-hal yang bersifat spekulasi.

Gubernur Bank Indonesua Agus Martowardojo terus mengantisipasi dampak per­ekonomian, seperti keluarnya modal asing menyusul semakin tingginya tensi politik antara Korut dan AS. Tekanan terhadap stabilitas geopolitik di Asia kian bertambah, menyusul perang pernyataan kedua pemimpin.

Lebih lanjut, Agus mengata­kan, selain stabilitas geopolitik, BI juga terus mencermati ren­cana penurunan neraca Bank Sentral AS The Federal Reserve yang akan dilakukan tahun ini. Penurunan neraca The Fed akan berdampak terhadap pasokan dolar ASdan stabilitas nilai tukar mata uang pada sejumlah negara di dunia.

"Dan secara umum, kalau kami melihat The Fed mengenai rencana suku bunga The Fed bisa naik pada Desember atau mung­kin tertunda. Itu yang kita perha­tikan. Tapi yang tetap menonjol adalah rencana penurunan neraca The Fed," ujarnya.

Secara umum, Agus melihat fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan mampu mena­han tekanan ekonomi eksternal. Modal asing yang masuk sejak Januari hingga pekan kedua Agustus 2017 tercatat Rp115 triliun. Fundamental ekonomi yang kuat juga tercermin dari inflasi yang hingga pekan kedua Agustus 2017 sebesar 3,91 persen (year on year/yoy). ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya