Berita

Foto/Net

Bisnis

Indonesia Perlu Memiliki Standar Mutu Khusus Beras

MINGGU, 13 AGUSTUS 2017 | 10:51 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha beras mendesak pemerintah menetapkan standar mutu beras. Standar tersebut dianggap penting sebagai langkah efektif untuk mencegah kerugian bagi konsumen dan pengusaha.

 Ketua Koperasi Pedagang Beras Pasar Induk, Zulkifli menerangkan, standar mutu be­ras merupakan salah satu kebu­tuhan mendasar dalam bisnis beras, apalagi makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi. "Ini sangat disayangkan masa standar mutu saja kita tidak ada," katanya kepada Rakyat Merdeka.

Dia menjelaskan, dengan adanya standar mutu maka pe­nentuan beras premium atau medium nantinya akan lebih mudah. Produsen bisa mengi­kuti standar tersebut dalam memproduksi beras, tindakan penyimpangan pun akan makin jelas terlihat. Tanpa adanya standar mutu khusus beras maka pengusaha ataupun penjual beras akan rawan dikriminalisasi.


"Kalo mau aman buat pro­dusen buat konsumen ya pakai standar mutu ini masalahnya kita nggak punya," katanya.

Dari berbagai pertemuan den­gan Kementerian Perdagangan dia mengaku belum mendapat titik cerah kapan Indonesia akan memiliki standar mutu. Standar mutu khusus beras sendiri harus ditetapkan oleh pemerintah dengan melibatkan ahli dan pelaku usaha.

"Sampai detik ini belum ada, makanya kita nggak punya stan­dar mutu untuk beras," katanya

Dalam urusan perberasan dia menyebut Indonesia sangat tertinggal dari negara lain. Di Asia Tenggara saja, di beberapa negara berkembang yang kon­disi ekonominya masih di bawah Indonesia sudah ada standarnya. "Coba kalau tidak percaya silahkan ke Thailand atau ke Vietnam, disana lihat bagaiamana mereka menentukan beras premium mereka sudah ada standarnya," katanya.

Dia menjelaskan bahwa me­nentukan mutu beras tidak bisa hanya dengan menyebut tingkat kualitas. Kebanyakan konsumen selama ini menentukan be­ras hanya dari sisi merek atau keterangan yang tertera pada kemasan beras. Padahal yang terpenting adalah standar mutu.

"Kualitas bagus ya bagus itu juga dimasak dulu, tapi mutu­nya itu seperti apa berapa kadar airnya itu penting tapi kita tidak ada," keluhnya.

Dia menambahkan, dengan dibuatnya standar mutu beras maka bisa diketahui persentase dari kadar air yang terkandung dalam beras. Batasan maksimal beras baik memiliki kadar air maksimal 14 persen. Hasil ini didapat dengan melewati hasil uji. "Standar mutu kan begini, itu beras ada kadar airnya seberapa besar," katanya.

"Kalau Thailand itu jelas disebutkan kadar airnya ada beras Thailand 15 persen, ada Thailand 10 persen ada Thailand 14 persen Thailand 8 persen," jelasnya.

Wajar saja jika ada pengusaha yang melakukan praktek mengubah beras biasa dirubah men­jadi beras bagus karena memang ongkos dan biaya yang dikeluar­kan oleh produsen itu besar.

Jika beras yang sudah dimasak terlihat bagus dan enak maka bisa jadi pengusaha sudah merubah beras menjadi premium. Hal tersebut sebetulnya tidak men­jadi masalah. "Karena aturan yang ada sekarang tidak tegas dan tidak jelas," tegasnya.

Zulkifli menduga pemerintah tidak mengetahui perihal detail urusan beras. Makanya dia me­minta agar pemerintah bisa lebih berhati-hati jangan sembarangan membuat keputusan agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan karena berbeda pemahaman.

"Kita minta ketegasan pe­merintah dengan aturan, kami merasa tidak nyaman karena belum ada aturan detail untuk masalah pencampuran ini," ungkapnya.

Sekarang ini saja untuk me­nentukan beras baik atau tidak baru bisa diketahui setelah di­masak atau dimakan. Dia juga menyebut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga bingung menentukan mutu beras.

"Beras paling enak kata dia (Mendag) dari Cirebon tapi menurut saya Bandung nah kalau penentuan gini kan tidak jelas," ucapnya.

"Makanya ngawur beras kita itu, orang nggak punya standar mau tahu ukuran dari mana," imbuh Zulkifli.

Dia berharap kepada pemerintah agar rencana pembuatan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras dibatalkan saja untuk selamanya. Pasalnya HET yang rencananya dibuat pemerintah akan menyamaratakan harga beragam beras.

"Kan tidak bisa beras disatu­kan karena ada banyak macam­nya," ucapnya.

Dia berharap dalam urusan beras ini harusnya Bulog yang paling bertanggungjawab. Dia meminta agar Kemendag dan Kementerian Pertanian jangan terlalu jauh mengintervensi utusan perberasan apalagi jika mereka tidak paham.

"Seharusnya bulog, karena yang paling bertanggungjawab dengan urusan perbesaran ada­lah bulog," tukas Zulkifli.

Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, Franciscus Welirang menambah­kan bahwa standar mutu beras itu penting. Sekarang penentuan kebanyakan orang menggunakan caranya masing-masing.

"Ini sebenarnya adalah masalah, kita di Indonesia mau mengukur kadar air dan warna beras bagaimana? Selama ini kita hanya pakai perkiraan peda­gang. Pengepul akan lihat beras­nya lalu tentuin itu harganya," cetus Franky.

Dia berharap agar kasus be­ras yang dialami oleh PT Indo Beras Unggul (IBU) tidak lagi terjadi. Kasus yang bikin geher ini membuat banyak pengusaha beras ketakutan, pasalnya In­donesia tidak ada aturan yang detail, untuk mutu saja tidak punya standar. Dia menegaskan kalau pengusaha beras dalam menjalankan produksinya benar-benar menjaga kepercayaan kon­sumen. Hampir tidak masuk akal jika produsen menipu konsumen dengan menjual beras kualitas buruk yang dibandrol meng­gunakan harga kelas premium. "Harga beras dengan kemasan dan branding yang baik tidak bisa disamakan dengan harga be­ras eceran," ungkapnya.  ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya