Berita

Net

Politik

Pemilu Kehilangan Harkat Karena Hanya Tonjolkan Angka

JUMAT, 11 AGUSTUS 2017 | 20:47 WIB | LAPORAN:

Penyelenggaraan pemilihan umum belakangan ini sudah melenceng dari tujuan.

Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) J. Kristiadi menjelaskan, rakyat sebagai pemilih hanya dianggap data dan angka, sehingga kemenangan merupakan harga mutlak. Pendidikan politik tidak lagi menjadi tujuan pemilu yang mengakibatkan dehumanisasi alias penghilangan harkat manusia.

Kristiadi mencontohkan, dalam Pemilu 2014 lalu, masyarakat disuguhkan perang opini negatif dari simpatisan serta pendukung masing-masing pasangan capres dan wapres. Di satu sisi, muncul isu bahwa Joko Widodo merupakan keturunan Tionghua dari Singapura. Sebaliknya, pendukung Jokowi menyebut yang melempar isu tersebut sebagai psikopat.


"Inti dari pemilu sebetulnya bukan untuk menentukan siapa yang jadi pemenang dan siapa yang jadi pemimpin. Masyarakat sebagai pemilih berhak mendapatkan pendidikan politik," jelasnya dalam diskusi di kantor Para Syndicate, Kawasan Wijaya, Jakarta, Jumat (11/8).

Lanjut Kristiadi, pemilu juga milik rakyat, makanya masyarakat harus mendapat pendidikan. Semisal, calon presiden nantinya mau memperjuangkan pendidikan agar generasi penerus tidak hanya pintar tetapi punya watak yang baik, atau calon presiden akan mengedepankan petani karena lebih penting.

"Ini kan tidak, ujug-ujug ngompor-ngomporin sana sini. Makanya pemilu itu menjadi dehumanisasi karena yang ditonjolkan itu angka. Kita ini cuma kumpulan angka. Seperti kemarin berebut presidential theshold 20 persen, nol persen, 15 persen. Kita cuma dijadikan angka-angka saja, kan menjadi dehumanisasi," bebernya.

Kristiadi menambahkan, pola-pola yang terjadi di Pemilu 2014 kemungkinan akan berulang kembali. Apalagi, saat ini peta politik dan koalisi parpol sudah bisa digambarkan. Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrat mulai menjalin komunikasi, sementara Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan sudah memantapkan pilihan untuk kembali mengusung Jokowi di Pilpres 2019.

"Berarti kita kembali kepada pertarungan lama. Di pertarungan lama, kalau tidak ada kekuatan media yang menetralisir itu menjadi kekuatan berbau primordial," pungkasnya. [wah]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya