Berita

Edhie Baskoro Yudhoyono/Net

Politik

Ibas: Jauhilah Sifat Fiktor (Fikiran Kotor)

KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 | 12:45 WIB | LAPORAN:

Ketua Fraksi Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau biasa disapa Ibas mengajak masyarakat semakin selektif mencerna informasi-informasi yang berpotensi merusak persatuan bangsa, termasuk yang disampaikan elit-elit politik nasional.

Ibas mengingatkan hal itu saat membawakan materi sosialisasi penguatan pemahaman empat pilar kebangsaan di Balai Desa Dadapan Kecamatan Pringkuku Pacitan Jawa Timur, Kamis (10/8).

Menurut Ibas, seorang politisi sebaiknya bisa mengedepankan etika dan politik santun sehingga tak sepatutnya memberikan pernyataan-pernyataan kontroversial atau sensasi yang justru hanya membuat gaduh keadaan.


"Politisi seharusnya bisa menyampaikan sesuatu yang baik dan membuat suasana lebih tenang,  bukan sebaliknya justru membuat kegaduhan baru, hal itu menyesatkan, " ucapnya.

Ibas menegaskan, Partai Demokrat merupakan partai untuk semua golongan dan lapisan masyarakat sehingga pernyataan salah satubelit politik nasional yang secara gamblang  menyatakan bahwa di Indonesia terdapat sejumlah partai politik yang mendukung sistem negara khilafah.

"Sangat tidak benar dan masuk akal karena sejak awal berdiri Partai Demokrat adalah partai semua golongan dan jelas azas kami pancasila dengan mengedepankan nasionalis religius, justru kamilah yang selalu menyuarakan dan mengaplikasikan semangat kebhinekaan dan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, " tukas anggota komisi X DPR RI ini.

Ibas meminta agar orang yang sudah merendahkan partainya untuk segera meminta maaf di depan publik.

"Saya meminta yang bersangkutan untuk meminta maaf dan mengklarifikasi ucapannya yang tendensius dan bermuatan politik tersebut," ucap dia.

Sudah seharusnya, lanjut Ibas, politisi mampu menjaga ucapannya dan menjauhkan diri dari fikiran kotor, Ibas juga meminta semua pihak memaknai pancasila jadi pemersatu bangsa.

"Jauhilah sifat fiktor (fikiran kotor), jadikan pancasila sebagai alat pemersatu bukan alat untuk memecah belah, apalagi membuat negara kita seperti terkotak-kotak, " tukasnya.[wid]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya