Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Indonesia Hampir Merdeka

KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 | 04:49 WIB

72 tahun Indonesia merdeka, begitulah harapan rakyat Indonesia setelah diproklamirkan Soekarno-Hatta 17 Agustus 1945. Tinjauan histori terkait peristiwa ini sebatas siapa, kapan, dan dimana. Sementara kajian bagaimana seharusnya sebuah bangsa dikatakan merdeka belum mencapai apa yang ditulis dalam teks tersebut.

Bahwa kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa akan tetapi sudah merdekakah bangsa Indonesia? Fisik mungkin sudah namun bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak belum bisa dipastikan. Pengusaha keturunan cina yang berafiliasi dengan asinglah yang berkuasa.

Krisis dan kelangkaan barang dipasar bergantung dari mereka. Krisis 98 disebabkan pengusaha-pengusaha cina lari dari Indonesia. Kendali ekonomi Indonesia sejak lama ditangan para Taipan, tak bisa dibantah dengan teori apapun. Pemerintah hanya "petugas" administrasi.


Belakangan negara ini (Indonesia) secara struktural merupakan "anak perusahaan". Perusahaan-perusahaan Taipan menginstruksikan syahwatnya melalui pemerintah Indonesia. Setiap regulasi harus mendapat lisensi perusahaan-perusahaan Taipan.

Selama ini industri lama (tambang) dikuasai Amerika dan perusahaannya namun para Taipan sebagai agen cina tak rela lagi. Kita semua paham konflik antar negara didunia didasari sumber daya alam. USA dan Cina masih berdamai karena Indonesia mau dijadikan perahan mereka.

Suksesi di Indonesia tak lebih dari pergantian pelaksana "anak perusahaan". Dominasi Cina yang diwakili Taipan atau perusahaan-perusahaan Amerika. Bila kini para Taipan lebih kuat dikarenakan pemerintah Indonesia lebih condong ke Cina. Sejak Bom Solo Walikota Solo terus dipopulerkan.

Titik tolak yang membawa Jokowi menjadi Presiden ialah peristiwa itu. Bantuan media nasional cukup mumpuni, terutama media-media yang dimiliki James Riady. Kini, James yang mesra dengan Cina dan intim dengan Amerika membidik lawan-lawannya.

James hanya salah satu contoh Taipan yang sangat berkuasa. Masih banyak lagi Taipan yang berkuasa melalui kader binaan di semua lini. Setidaknya mereka yang menentukan siapa pantas menjadi menteri, regulasi apa yang harus diterbitkan pemerintah.
 
Setiap masa Pilpres mereka memberi rupiah kepada para capres yang dianggap bisa diatur sesuka mereka. Kita tak perlu heran bila pemerintah lebih memihak mereka dengan dalih investasi. Argumen "cantik" lainnya dipersembahkan melalui media-media mereka. Tak heran bila rakyat saling hujat, komponen bangsa terpecah, kita tak mencabut akarnya.

Kini menjelang hari diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, sudah sepantasnya kita kembali merenung. Benarkah arah kemerdekaan kita, atau selama ini kita masih "tidur". Kita belum bangun dari tidur panjang sehingga tak paham apakah ini mimpi atau kenyataan.

Kesadaran baru terasa bila sudah dijajah secara fisik, sama halnya ketika kita tak sadar dijajah oleh Iblis. Kita terus berasumsi sudah merdeka namun urusan kereta api cepatpun bergantung pada Cina. Kita berhalusinasi sudah merdeka namun rakyat digusur demi kota kapitalis kita diam.

Penetrasi ekonomi yang dilakukan oleh Asing kita diamkan saja, bahkan beberapa tokoh intelektual rela menjadi "budak" asing dan membohongi rakyat. Halusinasi merdeka yang selama ini dirasakan sebaiknya kita sudahi. Kesadaran anak bangsa mulai tercipta, para Taipan dan kelompok kapitalis yang bersatu harus kita usir.

Mereka tak setetespun berdarah, mereka tak secuilpun kehilangan harta namun mereka penikmat terbesar sumber daya alam kita. Relakah kita menjadikan anak-cucu kita menjadi "budak" dinegerinya sendiri. Relakah tanah kita dirampas sehingga anak-cucu kita harus menyewa tanah airnya sendiri. Cukupkah kemerdekaan semu ini bagi kita, jangan menyerah pada minoritas .

Kita nyaris merdeka, kesadaran kita harus dilanjutkan dengan kebangkitan. Jangan ada ruang bagi penjajah dan pengkhianat bangsa sendiri, siapapun dia termasuk Presiden bila berkhianat harus kita lawan. Pembiaran terhadap penjajahan adalah penjajah yang sesungguhnya. [***]

Don Zakiyamani
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya