Produksi susu nasional saat ini hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan dalam negeri. Sisanya atau 80 persen kebutuhan susu masih impor. Hal ini terjadi lantaran peternak lokal kurang dapat dorongan dari pemerintah untuk memproduksi susu.
Staf Ahli Menteri bidang Hubungan Antarlembaga KeÂmenterian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Abdul Kadir menjelaskan, dari kebutuhan nasional sebesar 4,45 juta ton per tahun, penguÂsaha susu dalam negeri hanya mampu menghasilkan 852 ribu ton saja. "80 persen kebutuhan susu masih berasal dari impor," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan, rendahnya produksi dalam negeri akibat kurangnya dorongan dari peÂmerintah. "Kalau dulu di tahun 1980-an dan 1990-an produksi susu sedang bergairah lantaran adanya dorongan dari pemerÂintahan seperti program kredit sapi. Sekarang dari pengadaan bibit hingga pakan, peternak harus berpikir sendiri," ungÂkapnya.
Menurutnya, peternak ideÂalnya memiliki 10 ekor sapi. "Wajar kalau saat ini profesi peternak hanya sebagai sambilan dengan jumlah rata-rata hanya 3 ekor sapi per peternak. SemenÂtara kalau mau serius profesi peternak harus punya 10 ekor," kata Abdul Kadir.
Ia menjelaskan, jikalau ada bantuan dari pemerintah itu tetap tidak bisa menutup kebutuhan nasional. "Masalah bantuan di bidang peternakan sapi berkuÂtat di sekitar penyediaan bibit dan pakan yang berkualitas, itu semua tanggung jawab KemenÂtan," katanya.
Ia mengungkapkan, peternak juga butuh program pelatihan agar produksi susu terus meninÂgkat. "Lalu peternak juga perlu pelatihan. Itu semua yang belum ada," tegasnya.
Ia menambahkan, kerja sama antara produsen susu dan peterÂnak susu juga tentunya dapat berdampak pada berkembangÂnya usaha kecil dan menengah. "Kalau kebutuhan konsumsi susu bisa dipenuhi dari peternak lokal tentu manfaatnya akan terasa sekali," jelas Kadir.
Ia mengatakan, pemerintah akan meningkatkan peran koperaÂsi sapi perah di daerah-daerah. Dia pun mengharapkan, kemitraan swasta (produsen susu) dengan peternak susu lokal mampu menÂingkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu dalam negeri seÂhingga ketergantungan terhadap susu impor bisa berkurang.
"Diharapkan dengan peraturan tersebut industri pengolahan susu bisa menyerap seluruh produksi yang berasal dari koperasi susu," pungkasnya.
Deputi Pembangunan ManuÂsia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan PemÂbangunan Nasional/Bappenas Subandi mengajak produsen susu untuk turut berpartisiÂpasi dalam rangka meningkatkan konsumsi susu masyarakat. "Produsen susu berperan besar dalam penyerapan susu dari peÂternak susu lokal," ungkapnya.
Dia juga mengajak para proÂdusen susu juga terus bekerja sama dengan peternak susu lokal. "Dari kerja sama (produsen susu dan peternak susu lokal) ini ada dua keuntungan yaitu produsen mendapatkan pasokan bahan baku dan di saat yang sama kesÂejahteraan peternak sapi akan meningkat," katanya.
Sekretaris Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Unang Sudarma mengatakan, untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan susu nasional 30 persen pada 2019 perlu doronÂgan dari pemerintah. "Dorongan tersebut berupa pemberian sapi dari pemerintah. Nanti sapi itu bisa dikredit oleh peternak," terangnya.
Selain masalah populasi, Unang mengungkapkan, paÂkan sapi pun menjadi masalah. Karena umumnya peternak sapi perah tidak memiliki lahan untuk pakan ternak skala besar. Unang menjelaskan untuk produksi yang besar, kebutuhan pakan juga besar sehingga perlu menÂjadi perhatian.
Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengadakan program kredit sapi bergulir. "Kredit itu untuk menambah populasi sapi sehingga bisa menambah produksi," ujarnya.
Unang menjelaskan, pada program kredit itu, peternak diberikan sapi siap kawin atau sapi sedang bunting. Nantinya peternak mengembalikan kemÂbali kepada koperasi sesuai dengan sapi yang sebelumnya diberikan. Sapi itu nantinya akan dikreditkan kembali.
"Umumnya peternak sapi enggan memelihara anak sapi karena membutuhkan modal yang besar. Namun program ini membantu karena peternak juga diberikan sapi produktif untuk dikelola," tutupnya. ***