Berita

Foto/Net

Bisnis

Peternak Lokal Butuh Program Kredit Sapi

80 Persen Bahan Baku Susu Masih Impor
RABU, 09 AGUSTUS 2017 | 09:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Produksi susu nasional saat ini hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan dalam negeri. Sisanya atau 80 persen kebutuhan susu masih impor. Hal ini terjadi lantaran peternak lokal kurang dapat dorongan dari pemerintah untuk memproduksi susu.

Staf Ahli Menteri bidang Hubungan Antarlembaga Ke­menterian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Abdul Kadir menjelaskan, dari kebutuhan nasional sebesar 4,45 juta ton per tahun, pengu­saha susu dalam negeri hanya mampu menghasilkan 852 ribu ton saja. "80 persen kebutuhan susu masih berasal dari impor," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan, rendahnya produksi dalam negeri akibat kurangnya dorongan dari pe­merintah. "Kalau dulu di tahun 1980-an dan 1990-an produksi susu sedang bergairah lantaran adanya dorongan dari pemer­intahan seperti program kredit sapi. Sekarang dari pengadaan bibit hingga pakan, peternak harus berpikir sendiri," ung­kapnya.


Menurutnya, peternak ide­alnya memiliki 10 ekor sapi. "Wajar kalau saat ini profesi peternak hanya sebagai sambilan dengan jumlah rata-rata hanya 3 ekor sapi per peternak. Semen­tara kalau mau serius profesi peternak harus punya 10 ekor," kata Abdul Kadir.

Ia menjelaskan, jikalau ada bantuan dari pemerintah itu tetap tidak bisa menutup kebutuhan nasional. "Masalah bantuan di bidang peternakan sapi berku­tat di sekitar penyediaan bibit dan pakan yang berkualitas, itu semua tanggung jawab Kemen­tan," katanya.

Ia mengungkapkan, peternak juga butuh program pelatihan agar produksi susu terus menin­gkat. "Lalu peternak juga perlu pelatihan. Itu semua yang belum ada," tegasnya.

Ia menambahkan, kerja sama antara produsen susu dan peter­nak susu juga tentunya dapat berdampak pada berkembang­nya usaha kecil dan menengah. "Kalau kebutuhan konsumsi susu bisa dipenuhi dari peternak lokal tentu manfaatnya akan terasa sekali," jelas Kadir.

Ia mengatakan, pemerintah akan meningkatkan peran kopera­si sapi perah di daerah-daerah. Dia pun mengharapkan, kemitraan swasta (produsen susu) dengan peternak susu lokal mampu men­ingkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu dalam negeri se­hingga ketergantungan terhadap susu impor bisa berkurang.

"Diharapkan dengan peraturan tersebut industri pengolahan susu bisa menyerap seluruh produksi yang berasal dari koperasi susu," pungkasnya.

Deputi Pembangunan Manu­sia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pem­bangunan Nasional/Bappenas Subandi mengajak produsen susu untuk turut berpartisi­pasi dalam rangka meningkatkan konsumsi susu masyarakat. "Produsen susu berperan besar dalam penyerapan susu dari pe­ternak susu lokal," ungkapnya.

Dia juga mengajak para pro­dusen susu juga terus bekerja sama dengan peternak susu lokal. "Dari kerja sama (produsen susu dan peternak susu lokal) ini ada dua keuntungan yaitu produsen mendapatkan pasokan bahan baku dan di saat yang sama kes­ejahteraan peternak sapi akan meningkat," katanya.

Sekretaris Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Unang Sudarma mengatakan, untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan susu nasional 30 persen pada 2019 perlu doron­gan dari pemerintah. "Dorongan tersebut berupa pemberian sapi dari pemerintah. Nanti sapi itu bisa dikredit oleh peternak," terangnya.

Selain masalah populasi, Unang mengungkapkan, pa­kan sapi pun menjadi masalah. Karena umumnya peternak sapi perah tidak memiliki lahan untuk pakan ternak skala besar. Unang menjelaskan untuk produksi yang besar, kebutuhan pakan juga besar sehingga perlu men­jadi perhatian.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengadakan program kredit sapi bergulir. "Kredit itu untuk menambah populasi sapi sehingga bisa menambah produksi," ujarnya.

Unang menjelaskan, pada program kredit itu, peternak diberikan sapi siap kawin atau sapi sedang bunting. Nantinya peternak mengembalikan kem­bali kepada koperasi sesuai dengan sapi yang sebelumnya diberikan. Sapi itu nantinya akan dikreditkan kembali.

"Umumnya peternak sapi enggan memelihara anak sapi karena membutuhkan modal yang besar. Namun program ini membantu karena peternak juga diberikan sapi produktif untuk dikelola," tutupnya.  ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya