Anggota Dewan Energi NaÂsional (DEN) Abadi Poernomo mengungkapkan, porsi energi baru terbarukan (EBT) hanya tercapai 7,7 persen akhir tahun 2016. Capaian tersebut lebih rendah dari target yang tetapkan sebesar 10,4 persen.
"Ini artinya ada gap sehingga untuk mencapainya harus ada akselerasi. Tidak mungÂkin lagi (bisa tercapai) bila dilakukan dengan hal-hal yang biasa dilakukan," kata Abadi usai sidang DEN di KementeÂrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jakarta, pada akhir pekan.
Abadi menjelaskan, daÂlam sidang terdapat beberapa masukan untuk meningkatkan porsi EBT. Salah satu saran yang tercetus adalah mengakselerasi penggunaan panel surya di semua sektor, baik di bangunan-bangunan milik pemerintah, swasta, maupun rumah tangga.
Selain itu, lanjut Abadi, terÂdapat pula permintaan agar pemerintah mengakselerasi penggunaan bahan bakar biodiesel B20.
Abadi menilai, peningkatan porsi EBT meleset dari target karena kondisi ekonomi yang yang sedang lesu. Oleh karena itu, pihaknya tidak mau secara membabi buta memaksakan penggunaan EBT di seluruh sektor. Karena, langkah tersebut beresiko menghambat investasi. Misalnya, ide agar setiap rumah mewah dengan harga di atas Rp 2 miliar harus pasang rooftop (panel surya). Jika dipaksakan, harga rumah tentu akan naik karena ada tambahan memasang panel surya. Sementara itu, saat ini investasi rumah lagi menurun dalam beberapa waktu terakhir.
Meskipun capaian 2016 kurang memuaskan, Abadi meÂnegaskan, target porsi EBT mencapai 23 persen pada 2025 tidak akan diubah. Menurutnya, target 2025 sebesar 23 persen masih bisa dikejar.
"Nanti saat ekonomi kemÂbali tumbuh, pemerintah akan menggenjot penggunaan EBT. Mudah-mudahan tahun depan ekonomi kita sudah tumbuh," jelasnya.
Anggota DEN Rinaldy Dalimi menambahkan kontribusi EBT bisa terkerek dengan rencana pemerintah mengembangkan mobil listrik. Dan, tren pemasangan panel surya di rumah.
"Dua sarana itu bisa berkemÂbang karena teknologinya diÂpandang terjangkau. Untuk tenaga surya, saat ini terdapat tren di negara-negara maju di mana panel surya sudah diÂpasang di atap-atap gedung," ungkapnya.
Dia menilai, pemasangan panel surya berkembang karena tarifnya terbilang cukup komÂpetitif. Dirinya mencontohÂkan satu perusahaan penyedia teknologi panel surya yang bisa menghemat tagihan listrik sebesar Rp 500 ribu per bulan, meski penggunaanya di awal harus merogoh Rp 45 juta demi biaya instalasinya. ***