Sikap bingung pemerintah dengan tren daya beli turun menjadi ejekan masyarakat dunia maya. Pemerintah dianggap lupa, kalau saat ini banyak rakyat sengsara gara-gara banyak kebijakan yang tidak pro terhadap warga miskin.
Realitas pasar yang menyaÂtakan daya beli masyarakat turun menimbulkan tanda tanya besar bagi pemerintah. Bahkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut istilah 'misterius' dalam meÂnyikapi tren turunnya daya beli masyarakat. "Terus terang ini masih misteri," kata dia.
Bambang beralasan, data Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menunjuKÂkan adanya pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Faktanya, PPN naik. Saya tahu betul, karena itu mengÂgambarkan transaksi. Saya yakin PPN tumbuh bukan karena ekspor, tapi karena ada transaksi," katanya.
Istilah 'misteri' juga dipakai Thomas Lembong, kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pasalnya ia melihat realisasi investasi daÂlam semester pertama tahun ini justru naik.
"Ini harus ada penjelasannya, kok bisa investasi naik terus tapi daya beli malah turun, harusnya investasi naik penghasilan naik, sehingga permintaan naik, tapi ini misteri," kata Thomas.
Akumulasi realisasi investasi dalam enam bulan (semester I) 2017 adalah Rp 336,7 triliun atau lebih tinggi 12,9% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 298,1 triliun.
Tapi faktanya, di sektor inÂdustri ritel daya beli masyarakat jatuh, dengan pertumbuhan hanya 3% atau lebih rendah dari kondisi normal yang sebesar 12-14%. Sedangkan inflasi per Juli 3,88% (
year on year/yoy).
Selain ritel, ekonom senior
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J Rachbini menyebut, penurunan daya beli di tataran masyarakat juga bisa dilihat pada penjualan kendaraan bermotor.
"Tidak tumbuh penjualan mereka, minus 13%. Apakah dengan data ini pertumbuhan ekonomi bisa dikatakan masih baik-baik saja? Ini harus ada yang dicermati," jelas dia.
Rakyat di Twitter ramai-ramai memberikan pandangan berÂdasarkan kondisi hidup masing-masing. Sederhananya, menurut akun @ariefdwt penurunan daya beli masyarakat karena harga-harga saat ini naik.
"Daya beli turun karena harga naik, nah yang dicari penyebab harga naiknya kenapa? Yang dimaksud SBY sektor satu dan lainnya tidak kompak jadi harga naik," cuitnya.
"Menyelesaikan masalah denÂgan info yang salah, otomatis kuncinya salah, maka kemiskiÂnan makin bertambah & daya beli masyarakat makin turun," terka @mama_kucingB.
"Daya beli turun karena rakyatmu nggak sejahtera. Utang negara tambah banyak/ dana haji mau dipake/ harga barang-barang naik/ rakyat mampus semua," timpal @Umnia77.
"Kok misteri sich Pak? Kalau mau mikir sedikit saja,...daÂpat disimpulkan investasinya ga berkualitas...," cuit akun @dewÂantara_adjie. "Bukan cuma daya beli yang turun. Gairah hidup juga turun. #EraBPJS#pasrah," timpal akun @yudi_hardis.
"Prettt, daya beli turun karena harga kemahalan, coba kalo beli 2 gratis 1 pasti daya beli meningkat," kata akun @ MASEDI849671.
"@jokowi mau tau kenapa daya beli menurun?? harga sawit turun sedangkan biaya masuk perguruan tinggi terus meningÂkat," sindir akun @st_manik.
"Daya beli masyarakat turun, dan pemerintah dengan tidak kreatifnya menuding Online Shop penyebabnya," sindir akun @rahil_simabua.
"Mau panggil 200 menteri juga daya beli masyarakat tetep rendah. Wong emang ra ono duit (nggak ada duit), lapangan kerja disrobot bongso chino," nyinyir akun @KiGrinsing.
Akun @ghaitsu menyarankan, bila Presiden Jokowi benar-benar tentang teka-teki tren turun, maka bukan bertanya ke menteri. "Pak presiden yang terhormat jangan tanya sama menteri-menteri yang ABS(asal bapak senang). Tanya langsung sama pelaku usahanya kan pak pres suka blusukan..," usul akin @ghaitsu.
"Karena rakyatmu sudah tak mampu beli !!!," tegas akun @ topik_bidik.
Namun, akun @upinipin12 ngotot tak percaya daya beli masyarakat turun. Yang benar, kata dia, pembeli beralih dari konvensional ke online.
"Ya kalo gitu ada yang bohong kali bro kalo bilang ekonomi lesu sepi daya beli menurun. Lebih tepatnya sekarang pada belinya online. Lebih murah tidak kena pajak bro. Ya mungkin ada benarnya ibu sri bilang, mental gratisan," bela dia. ***