Berita

Jokowi

Bisnis

Ekonomi Jatuh Karena Jokowi Terlalu Percaya Diri

SENIN, 07 AGUSTUS 2017 | 00:16 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

RASA percaya diri yang besar membuat Jokowi kurang perhitungan dalam membuat berbagai kebijakan ekonomi. Bahkan keyakinan bahwa dia idola membuat Jokowi bahkan sanggup membuat kebijakan yang tidak populis. Jokowi yakin bahwa kebijakananya tidak mungkin ditolak karena orang Indonesia sangat mengidolakannya.

Baru beberapa hari Jokowi menjabat presiden pada akhir 2014 lalu, dia langsung mencabut subsidi BBM. Bahkan kebijakan ini dilakukan pemerintah tanpa persetunjuan DPR. Karena para angota DPR juga banyak yang mengidolakannya. Kebijakan menaikkan harga BBM diterima DPR dengan senang hati. Presiden sebelumnya sangat berhitung setatus kali sebelum menaikkan harga BBM.

Tanpa disasari bahwa kebijakan menaikkan harga BBM mendorong kebijakan sektor lain bergerak ke arah yang sama, naik, naik, dan naik. Padahal pada saat Jokowi mulai menjabat, harga minyak dunia tengah jatuh. Banyak negara memanfaatkan penurunan harga energi termasuk BBM adalah kesempatan untuk menekan biaya, memulihkan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat yang tengah melemah.


Akibat kenaikan harga BBM inflasi menjadi tinggi dan tidak terkendali. Harga harga barang kebutuhan hidup serempak naik. Bahkan harga pangan yang pada tingkat global sedang turun tajam, di Indonesia malah naik berkali kaki lipat. Intinya inflasi sangat tinggi. Meski BPS melalui survei survei merekayasa sedemikian rupa agar kondisi ekonomi terlihat baik baik saja.

Kebanyakan orang bisa saja tertipu oleh kampanye bahwa yang memuji keberanian Jokowi menaikkan harga BBM, tapi tidak dengan sektor keuangan dan perbankkan. Mereka ini tidak mungkin tertipu. Maka segera setelah Jokowi menaikkan harga BBM, bank bank segera menaikkan suku bunga kredit mereka. Bank bertanding dengan inflasi yang tinggi. Meskipun bank bank meminjam di china, singapura dan negara lain dengan bunga 5%, mereka mengambil untung paling tidak dua kali lipat. Belum lagi ditambah asumsi nilai tukar rupiah bisa saja terus merosot.

Kebijakan bank bank yang menaikkan suku bunga kredit mengakibatkan kredit merosot. Padahal kredit yang besar baik kredit perumahan maupun kredit konsumsi merupakan penopang utama konsumsi masyarakat. Suku bunga yang tinggi mengakibatkan penyaluran kredit perbankkan merosot tajam.

Padahal dalam satu dasawarsa terakhir, ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Konsumsi ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit properti. Tahun tahun awal Jokowi langsung ditandai sektor properti ambruk dan sektor ritel ambruk dan terus memburuk sampai dengan hari ini.

Sementara pemerintah butuh uang besar untuk membiayai berbagai mega proyek infrastruktur. Sumber pembiayaan mega proyek salah satunya adalah pajak yang dibayarkan oleh masyarakat. Kebutuhan pembiayaan infrastruktur berbanding terbalik dengan  kemampuan penerimaan pajak pemerintah.

Ditambah lagi merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar telah mengakibatkan kualitas belanja pemerintah merosot hampir separuh dibandingkan periode sebelumnya. Perlu diketahui bahwa sebagian besar belanja pemerintah sendiri adalah konsumsi barang barang impor. Sementara nilai tukar berada pada rata rata Rp.13.500 sampai Rp.14.500 merosot dibandingkan periode sebelumnya rata rata Rp.8000 sampai Rp. 9000 per USD.

Namun rasa percaya diri Jokowi tidak berkurang. Keyakinan sangat besar bahwa rakyat sangat mengidolakan dirinya meningkatkan keberanian Jokowi untuk mengenjot penarikan pajak kepada rakyat dengan cara menaikan pajak, memperluas object pajak serta berbagai ancaman denda hingga kriminalisasi masalah masalah perdata perpajakan. Kuat keyakinan Jokowi bahwa meskipun rakyat diperas dengan berbagai kewajiban pajak rakyat tetap akan mengidolaknnya. Ini terbukti dari kebijakan Jokowi yang menaikkan pajak dan cukai tembakau.

Kenaikan pajak semakin memicu inflasi yang semakin tinggi. Menko perekonomian Darmin Nasution mengatakan kenaikan pajak STNK secara serempak membuat survei BPS mencapai kesimpulan bahwa pajak STNK yang naik adalah pemicu inflasi yang tinggi.

Inflasi yang tinggi tidak hanya membuat biaya produksi meningkat, namun biaya pembangunan mega proyek  infrastruktur juga meningkat. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang merupakan proyek unggulan Jokowi. Perusahaan listrik negara yakni PLN mengalami pembengkakan biaya dalam mega proyek 35 ribu megawat sehingga menununt kenaikan tarif listrik untuk mendapatkan uang dalam melanjutkan mega proyek tersebut.

Jokowi dengan rasa percaya diri yang tinggi menaikkan harga listrik tiap 3 bulan sekali. Kepada publik disamapaikan bahwa kenaikan tarif dasar listrik adalah dalam rangka mengibangi angka inflasi. Maka terjadilah kejar kejaran antara inflasi dan tarif listrik. Lucu memang kenaikan tarif listrik menyebankan inflasi tinggi, inflasi tinggi mendorong kenaikan tarif listrik. Seterusnya demikian.

Rasa percaya diri Jokowi kian besar, keyakinan begitu kuat bisa dapat uang besar, APBN dirancang sangat besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan defisit anggaran tahun ini mendekati batas yang ditoleransi oleh UU keuangan negara. Jokowi sangat percaya diri bahwa rakyat dan asing akan setor uang besar kepada pemerintahan yang dipimpinnya.

Rasa percaya diri berlebihan membuat Jokowi kurang mawas diri, mengakibatkan dia kurang sadar diri dan akhirnya tidak tahu diri. [***]

Penulis adalah Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya