Berita

FX. Arief Poyuono/Net

Wawancara

WAWANCARA

FX. Arief Poyuono: Saya Tetap Lawan Sejati Jokowi, Tapi Kawan Ketika Kebijakan Dia Pro Rakyat

JUMAT, 04 AGUSTUS 2017 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Via surat bermeterai, Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) FX Arief Poyuono meminta maaf secara terbuka kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Hal ini terkait pernyataannya yang menyamakan PDIP seperti PKI.

Pernyataan itu disampaikan Arief saat menanggapi keluhan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto soal UU Pemilu yang dikritik Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Pernyataan PDIP sama dengan PKI beserta surat minta maaf dari Arief itu viral dan jadi bahan bully-an di medsos. Saat diwawancarai Rakyat Merdeka, Arief tetap merasa tidak bersalah dan tidak takut dipolisikan. Berikut pernyataan Arief se­lengkapnya;


Biasanya ceplas-ceplos, kok sekarang malah berbalik minta maaf?
Begini. Permintaan maaf itu untuk meluruskan statemen yang menuduh saya mengatakan PDIP itu PKI. Padahal, ucapan saya wajar saja. Menimpali statemen Sekjen PDIP yang mengeluh kar­ena PDIP dikaitkan dengan PKI oleh segelintir orang. Dan kata Hasto, orang tersebut Sengkuni dalam dunia perwayangan yang baru diruwat di Yogya.

Perubahan sikap Anda kar­ena ditekan Ketua Umum PDIP Megawati atau ditekan kader PDIP?
Tekanan nggak ada ya dari Ibu Megawati. Cuma saya pakai akal sehat saja dari pada gara gara terus ada kesalahpahamanan. Jadi hubungan saya dengan sahabat-sahabat di PDIP jadi rusak.

Anda takut dipolisikan rela­wan (PDIP) ya?
Dipolisikan atau tidak sih itu hak relawan atau pihak lain ya. Saya ikut saja sepanjang itu benar.

Di internal Gerindra, sete­lah mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan PDIP, apa Anda ditegur Prabowo. Apa katanya?
Beliau telepon dan bertanya, kenapa kamu sebut PDIP itu PKI. Lalu saya jelaskan, awal­nya saya tidak terima Hasto mengkritik beliau.

Bahwa akibat Undang-Undang Pemilu, beliau dianggap ambisi jadi presiden. Padahal kita bi­cara substansi, Undang-Undang Pemilu kayak lelucon dan me­nipu rakyat.

Sudah ada sanksi dari par­tai?
Nggak ada sanksi tuh. Beliau (Prabowo) cuma minta saya klarifikasi. Lha wong saya kan membela ketua umum partai saya yang di-bully di medsos akibat statemen Hasto.

Konon banyak masyarakat yang mengaitkan PDIP dan PKI. Anda yakin?
Saya nggak yakin masyarakat menganggap PDIP itu PKI. Kalau PKI, mana mungkin PDIP menang Pemilu 2014. Lagian, saya ini kan berdarah banteng, bekas kader PDIPerjuangan. Ayah dan kakek saya itu PNI. Ayah dan almarhum Pak Taufik Kiemas itu teman seperjuangan dan sama-sama dipenjara zaman Orba. Jadi saya katakan, PDIP bukan PKI.

Setelah kejadian itu Anda berniat berbalik dukung Jokowi enggak?
Nggaklah. Saya tetap lawan sejati Joko Widodo selama dia berkuasa. Tapi tetap kawan da­lam hal mendukung kebijakan beliau yang pro rakyat. Insya Allah, saya akan terus meng­kritik Pak Jokowi agar selalu memihak wong cilik. Ingat asal muasalnya dari rakyat jelata.

Belakangan, oposisi banyak dibungkam?
Kalau ini sih ada benarnya. Oposisi banyak yang tersandera oleh masalah hukum dan bisnisnya takut diganggu atau diotak-atik. Jadi pada melempem semua kayak kerupuk kena hujan. Padahal status negara sudah emergency, perlu diselamatkan.

Yakin selamanya Anda men­jadi oposan?
Tidak ada kata mundur. Akan saya lakukan seperti Ibu Megawati yang berani oposisi saat SBY memerintah. Karena itu, saya serukan pada jaringan mahasiswa, ormas, serikat buruh, harus terus kritis dan berani melawan jika Joko Widodo melanggar konsti­tusi atau tidak konsisten berpihak pada rakyat. Saya bukan opo­sisi yang melempem kalau dikasi duit, proyek, atau punya kasus diotak-atik. Saya akan jadikan Ibu Megawati sebagai inspirasi menjadi oposisi. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya