Kinerja ritel sepanjang Semester I-2017 sangat lesu. Laba bersih dua emiten ritel, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dan PT lndoritel Makmur Internasional Tbk anjlok. Pengusaha meminta pemerintah untuk segera memperbaiki daya beli masyarakat.
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menegaskan, bahwa anjloknya laba dua emiten ini sekaligus menegaskan bahwa penurunan daya beli bukan isapan jempol.
"Sekarang sudah sulit memÂperhitungkan peningkatan daya beli sehingga banyak peritel yang menahan ekspansi atau seperti yang kita tahu sudah ada yang tutup belum lama ini," ucarnya di Jakarta, kemarin.
Anjloknya daya beli saat ini di luar dugaan para pelaku usaha. Tidak hanya Alfamart dan Indomart tapi banyak periÂtel lain yang ikut merasakanÂnya. Momentum hari besar seperti Lebaran yang biasanya bisa menggenjot pertumbuÂhan, sekarang ini kenyataannya tidak.
"Fakta di lapangan sudah menunjukkan beragam produk ritel mengalami kelesuan daya beli sekarang susah diprediksi kedepan," katanya.
Untuk diketahui, laba Alfamart sepanjang Semester I turun 53,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 38,81 miliar. Sedangkan laba Indomaret turun 78 persen menÂjadi Rp 21,36 miliar.
Tutum melihat, ada banyak peritel yang pendapatan dengan pengeluaran sudah tidak seimbang. Saat ini, pelaku usaha ritel sedang memperhitungkan kekuatan dari aset yang dimiÂlikinya supaya bisa bertahan dan menyiapkan strategi untuk meningkatkan keuntungan jika daya beli sulit.
"Sekarang teman-teman periÂtel sedang menghitung kekuatan mereka," ucapnya.
Menurut dia, anjloknya laba perusahaan ritel bukan karÂena masyarakat pindah ke penÂjualan online. Sebab, penjualan pabrik juga lesu. Penurunan penjualan ini sebabkan, kekuatan masyarakat yang menurutun. "Akibatnya, masyarakat hanya membeli apa yang mereka sangat butuhkan," katanya.
Kondisi ini terjadi juga di negara tetangga juga. Namun, kata dia, kondisi tidak separah di Indonesia. "Di negara-negara tetangga yang mirip seperti kita ternyata daya beli masih ada, nah di Indonesia tidak bangkit-bangkit," katanya.
Tunggu Solusi
Dia berharap, ada solusi dari pemerintah sebagai pembuat regulasi untuk menaikkan daya beli. Dia pun menepis, tudingan yang mengatakan anjloknya daya beli hanya sebatas isu. "Bisa dicek di lapangan kalau ada isu daya lebih lemah kamiÂlah yang paling merasakannya," cetusnya.
Karena itu, pemerintah harus cepat bersikap karena gelomÂbang seperti ini sudah berlangÂsung dari 2014. Bahaya kaÂlau dibiarkan terus. Apalagi, masalahnya bukan hanya di ritel saja, tapi juga produsen mengaÂlami penurunan.
Sementara itu, pemerintah menepis anggapan terkait penuÂrunan daya beli masyarakat yang kerap dikeluhkan pada penguÂsaha di sektor industri ritel pada sepanjang semester pertama tahun ini.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, tren belanja masyarakat saat ini sudah berubah dari konvensional ke online. Hal ini menunjukkan transaksi penÂjualan tetap ada, sehingga daya beli masih terjaga.
"Konsumsi kita banyak dipengaruhi online. Itu artiÂnya, transaksi tetap jalan," jelas Bambang.
Pemerintah, kata Bambang, terus mendorong dengan berÂbagai macam kebijakan untuk mempermudah perizinan dan menjaga konsumsi masyarakat. "Daya beli bukan normal, tapi kita harus tetap menjaga supaya konsumsi tetap kuat," ujarnya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan, realisasi penerimaan Pajak PertambaÂhan Nilai (PPN) tumbuh 13,5 persen pada paruh pertama tahun ini jika dibandingkan periode sama tahun lalu. PenÂcapaian tersebut menunjukkan adanya kenaikan transaksi penÂjualan di semester I ini.
"Artinya transaksi naik, karena kalau tidak ada transaksi, tidak mungkin PPN naik," kata Suahasil. ***