Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (8)

Memahami Kebudayaan Indonesia
KAMIS, 03 AGUSTUS 2017 | 10:01 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Agak sulit mendefi­nisikan kebudayaan Indonesia. Bukan kar­ena luas dan padat­nya nilai-nilai budaya lokal, tetapi lebih ke­pada faktor sensitif. Definisi yang terlalu menekankan salah satu budaya lokal atau salah satu agama, sudah pasti akan men­imbulkan ketegangan. Meskipun agak sulit mendefinisikannya tetapi kebudayaan Indo­nesia bisa difahami melalui konteks keseja­rahan dan konteks nilai-nilai yang meng­kristal di dalamnya.

Dari konteks kesejarahan, kita bisa memba­gi kebudayaan Indonesia ke dalam beberapa episode sejarah. Pertama, pra sejarah Indo­nesia, kita belum banyak tahu tetapi faktanya sudah ada warga masyarakat yang mendiami kepulauan Nusantara semenjak zaman pur­bakala dengan berikut karakteristiknya mas­ing-masing. Kedua, Proto Indonesia atau post prasejarah, yaitu sesudah zaman prasejarah dan sebelum masa sejarah Indonesia mod­ern, lebih tepatnya sejarah masyarakat nusan­tara awal. Fase ini terjadi persentuhan budaya dan peradaban antar suku dan pulau. Ketiga, masa sejarah Indonesia, yaitu ketika Indonesia sudah diperkenalkan dalam sejarah modern, khususnya setelah masuknya agama Hindu, Islam, dan kolonialisme Barat sampai seka­rang. Agama-agama ini memberikan pengar­uh luas di dalam budaya dan peradaban lokal msyarakat Nusantara.

Jauh sebelum kepulauan nusantara ini di kenal dunia luar, sudah ada cikal bakal Indo­nesia yang mendiami gugusan kepulauan nu­santara. Sudah banyak bukti arkeologis dan bukti antropologis kalau wilayah kepulauan Indonesia ini sudah dihuni oleh masyarakat yang berperadaban sebagaimana diuraikan dalam artikel terdahulu. Melalui analisa ter­hadap fakta sejarah zaman batu, periode neolithicum di dalam gugusan kepulauan ka­wasan ini. Sudah ada mobilitas antar pulau, alat-alat pertahanan seperti panah, aktivitas ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti pen­uangan logam. Sudah ada sistem kekeraba­tan (ius sanguinis) dan sistem wilayah (ius soli). Demikian pula kemampuan komunikasi dan bahasa.


Periode proto Indonesia yang ditandai dengan hadirnya persentuhan asing seba­gai konsekuensi geografis kepulauan nusan­tara yang mendiami posisi silang. Pengaruh Hindu dari India berpengaruh pada sejumlah pusat kerajaan seperti kerajaan Kutai, Pajaja­ran, Syailendra, Sanjaya, Sriwijaya, Mataram Kuno, Majapahit, dan beberapa kerajaan ke­cil lainnya. Pengaruh Hindu bisa dilihat da­lam penataan masyarakat yang dibagi ke dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan Ista­na (Ksatria), lingkungan religi/agama), dan lingkungan rakyat. Kemudian priode Islam, yang melakukan perubahan secara gradual terhadap tata-nilai yang sudah ada sebel­umnya. Islam melanjutkan pola lingkungan masyarakat dengan meminjam istilah Cliffod Geertz; priyayi, santri, dan abangan. Simbol­nya berupa istana yang didampingi masjid dan alun-alun di depan.

Sejarah Indonesia modern setelah kolo­nialisme Barat menancapkan pengaruhnya di kepulauan nusantara seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda. Kultur ba­rat sudah mulai ikut ambil bagian di dalam kristalisasi kebudayaan Indonesia, walaupun hanya dalam skala terbatas tetapi cukup me­nentukan. Kebudayaan Indonesia, akumula­si dari kekayaan lokal dengan berbagai value dan norma yang datang dari luar, khususnya dari anak benua India dengan agama Hindu­nya, jazirah Arab dengan agama Islamnya, dan Eropa dengan kebudayaan dan perada­bannya. Sintesa berbagai unsur luhur dari peradaban beberapa kawasan belahan dun­ia membentuk dan sekaligus memperkaya kebudayaan Indonesia menjadi seperti apa yang sudah mengkristal sekarang dengan nama "Kebudayaan Indonesia". 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya