Kesempatan belajar menulis dan membaca belum sepenuhnya dialami oleh semua anak-anak Indonesia. Bahkan anak-anak di daerah perkotaan pun hampir kehilangan momentum yang menjadi hak mereka, terutama anak-anak jalanan di kota metropolitan seperti Jakarta.
Mencermati kondisi tersebut, produsen alat tulis asli Indonesia, PT Standardpen Industries melakukan gerakan #ayomenulis, dengan menggelar sejumlah kegiatan guna menghadirkan kembali kesempatan yang menjadi hak anak-anak Indonesia untuk belajar menulis dengan tangan dan juga membaca sejak dini.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalalah mengajak anak-anak jalanan dari keluarga pemulung yang mendiami bantaran sungai Banjir Kanal Barat, Tanah Abang, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu. Kegiatan ini juga sebagai rangkaian memperingati Hari Anak Nasional dan sambut bulan Kemerdekaan Indonesia yang digelar oleh Standardpen.
Kegiatan belajar menulis sembari bermain itu diikuti dengan antusias yang tinggi oleh anak-anak jalanan di bantaran sungai Banjir Kanal Barat itu. Semangat itu terlihat saat menuliskan cita-cita mereka. Kendati berlatar belakang keluarga tidak mampu, anak-anak jalanan ini tetap mempunyai cita-cita yang tinggi.
Seperti Anton, anak pemulung yang kini mengenyam pendikan kelas dua SD, di masa depanya kelak ingin membela negara dengan menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Â
"Saya ingin menjadi ABRI," ujar Anton sembari memperlihatkan tulisan cita-citanya pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan pada media yang disiapkan Standarpen pada dinding pembatas tanggul Banjir Kanal Timur, tanpa menyadari, dan mungkin karena ketidaktahuan jika “ABRI†yang menjadi cita-cita besarnya itu saat ini telah berubah menjadi TNI.
Cita-cita setinggi langit juga diungkapkan Gresha. Siswa kelas empat SD itu ingin menjadi seorang dokter. "Kalau aku mau jadi pilot," pungkas Ahmad yang seolah tak mau kalah dari teman-teman sebayanya.
Menariknya, di antara Anton, Gresha, dan Ahmad, ada pula beberapa anak-anak jalanan yang memang kesehariannya hidup di jalanan karena tidak bersekolah, namun demikian mereka masih menyimpan asa untuk meraih masa depannya nanti. “Saya ingin jadi Polisi,†kata salah satu anak yang tidak sekolah.
Selain belajar menulis, anak-anak jalanan di bantaran sungai Banjir Kanal Barat juga diajak untuk belajar mengenal peta Indonesia. Mereka diajak untuk mengenal daerah asal dari orangtuanya, juga pulau-pulai yang ada di Indonesia. Di saat bersamaan, anak-anak juga diajari untuk mengenal nama-nama ikan, seperti yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan kunjungannya ke daerah-daerah di Indonesia.
Namun sebagian besar dari anak-anak jalanan ini tidak mengetahui nama-nama pulau dan terlihat kesulitan menunjukan letak pulau atau kampung halaman orangtuanya. Begitu juga dengan nama-nama ikan yang disebutkan tidak dengan benar, seperti memasukan nama 'Ikan Buaya' sebagai salah satu jenis ikan yang mereka ketahui secara otodidak dari pengalaman sehari-hari.
Ajakan #ayomenulis dalam kegitan tersebut juga disertai dengan pembagian bulpoin dan buku tulis, yang merupakan bagian dari kegiatan Satu Juta Bolpoin Untuk Anak Indonesia yang telah dibagikan dari pinggiran kota dari Barat hingga Timur Indonesia. Diantaranya; Gunung Sinabung Sumatera Barat, Madura, Pulau Bawean, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Pati, Malang, Lamongan, Gunung Slamet, Kulonprogo Yogyakarta, Pandeglang, Serang Banten dan Jakarta Barat.
Dan tahun ini, Standardpen hadir menemui anak-anak di Timur Indonesia diantaranya yaitu; Flores (Maumere, Ende, Bajawa), Nusa Tenggara Barat (Sumbawa Besar, Tambora) dan Bulukumba Sulawesi Selatan dan Mandar Sulawesi Barat.
Cinta Produk IndonesiaMengenalkan anak-anak untuk menggunakan produk dalam negeri yang berkualitas tidak mudah, karena adanya mindset produk luar negri lebih branded dan berkualitas dibandingkan produk lokal, lanjut Megusdyan.
Di sisi yang lain sebagai kampanye Cinta Produk Indonesia, Standardpen juga berusaha menjaga kualitas demi kepuasan konsumen dalam menggunakan produk alat tulis lokal. Sebab saat ini begitu banyak produk alat tulis impor dari luar negeri yang beredar di masyarakat, namun kualitasnya tidak memuaskan, bahkan ada yang memalsukan brand terkenal baik brand lokal maupun produk luar.
"Kami sangat berharap pemerintah untuk terus mendukung peggunaan produk dalam negeri secara konsisten. Memang banyak produk impor yang berkualitas, namun tidak dengan produk impor ilegal untuk barang berkualitas rendah. Ini bisa dilihat di tingkat peritel di lapangan yang menawarkan produk KW, bahkan produk ilegal hingga produk palsu. Tentu hal ini tidak adil buat kami selaku produsen, juga para konsumen sebagai pengguna akhir," tegas Megusdyan.
Sebabnya, lanjut Megusdyan, proses produksi alat tulis saat ini sudah menggunakan teknologi terkini, seperti penggunaan mesin canggih dari Jepang hingga Swiss karena pembuatan bolpoin yang sangat kompleks. "Untuk menghasilkan satu batang bolpoin dibutuhkan mesin yang kuat, disiplin, quality control yang ketat, serta bahan yang bermutu. Dari satu batang bolpoin saja proses yang dilalui sangat rumit dan dibutuhkan ketelitian. Jadi sangat disayangkan kalau usaha dan investasi kita tidak didukung penuh oleh pemerintah," pungkas Megusdyan.
[wid]