Berita

Masinton Pasaribu/Net

Hukum

Pansus Ingatkan KPK: Informasi Dari Napi Korupsi Kita Klarifikasi Lagi Keles

RABU, 02 AGUSTUS 2017 | 17:45 WIB | LAPORAN:

Langkah Pansus Angket KPK menemui tahanan korupsi di Lapas Sukamiskin, Bandung menuai kontroversi. Bahkan opini negatif dibangun untuk menyerang Pansus. Mereka dituding menjadikan napi koruptor sebagai alat untuk mendelegitimasi KPK.

Bagi anggota Pansus Angket KPK dari Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, opini negatif tersebut sebenarnya bukan hal yang baru terjadi.  

"Kami dibuli secara terus menerus-menerus. Bahkan ketika ke Lapas Sukamiskin pun, Pansus dituding memanfaatkan para koruptor," kata dia saat menjadi pembicara pada dialektika demokrasi bertema "Pansus KPK dan pemberantasan Korupsi," di Media Center DPR, Rabu (2/8).


Masinton berdalih, untuk mengetahui proses penyelidikan yang dilakukan KPK apakah sesuai dengan prosedur hukum atau tidak, maka hal itu ditanyakan langsung kepada orang-orang yang dijadikan tersangka oleh KPK yang ditahan di Lapas, Sukamiskin.

"Kan tidak mungkin kami tanyakan ke tukang baso. Logikanya kan seperti itu," jelas anggota Komisi III DPR ini.

Dia juga menegaskan kalau anggota Pansus bukanlah orang bodoh yang tidak memahami perlakuan terhadap informasi.

Masinton mengatakan informasi yang diperoleh dari para koruptor tersebut tidak langsung diterima begitu saja. Informasi yang didapat kata di croscek kembali validitasnya.

"Informasi para tahanan bukan sumber utama. Kita bukan orang bodoh.Ya kita klarifikasi lagi keles," jelasnya.

Dia balik mempertanyakan langkah KPK dalam menangani kasus korupsi Nazarudin. Masinton mengatakan sebenarnya ada lima proyek besar  mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang masuk ke KPK. Namun hanya satu saja yang ditangani oleh komisi antirasuah tersebut.

"Nilai kerugian negaranya pun kecil.  sementara polisi 19 proyek dan di Kejaksaan 9 proyek. Tapi tidak gaduh," tandasnya. [sam]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya