Potensi bisnis alat penyimpan makanan segar dengan teknologi pendinginan alias cold storage di Indonesia sangat besar. Bahkan trennya cenderung meningkat. Pengusaha kudu memanfaatÂkannya.
Chairman Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanuddin Yasni menjelasÂkan, alasan prospektif bisnis cold storage yang besar adalah dampak dari kebutuhan makanan segar di kota besar. "Perusahaaan harus siap membuat produk yang lebih inovatif dan optimal untuk memenuhi permintaan pasar," kata Hasanuddin di Jakarta, kemarin.
Dia melihat kebutuhan proÂdusen makanan segar akan cold storage kebanyakan ada di kota-kota besar, khususnya Jakarta. "Biasanya posisi kota besar apalagi Jakarta adalah sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan kegiatan bisnis makanan segar," jelasnya.
Menurut Hasanuddin, poÂtensi cold storage untuk meÂnyimpan makanan segar di Indonesia terus meningkat. Bahkan saat ini mencapai angka 60 juta ton per tahun. "Nilai investasinya yang kita catat saja mencapai kisaran Rp 80 triliun," tegasnya.
Ketua Komite Tetap Industri Makanan dan Protein Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Thomas Darmawan menambahÂkan, bahwa yang perlu diperhaÂtikan oleh pengusaha cold storÂage sekarang adalah di sektor perikanan.
"Saya yakin sekali bahwa potensi dari industri perikanan di Indonesia sangat besar," ujar Thomas.
Menurutnya, pelaku-pelaku usaha di sektor perikanan pasti membutuhkan sistem pendingiÂnan untuk ikan hasil tangkapan dari kapal nelayan. "IndusÂtri makanan sangat berkaitan erat dengan industri pendingin untuk membantu mempertahÂankan kualitas dari makanan," ucapnya.
Thomas juga meyakini bahwa industri cold storage akan mendapat dukungan dari pemerintah. Menurut dia, mesin penyimpanan dengan teknologi pendingin sejalan dengan salah satu program nawa cita Presiden Joko Widodo.
"Sektor makanan dan energy menjadi sektor prioritas di tahun 2017 ini," tuturnya.
Sementara itu, Managing Director Pelita Promo Internusa (PPI) Sofianto Widjaja menuÂturkan, salah satu cara untuk mendongkrak bisnis cold storÂage adalah dengan menggelar pameran International Indonesia Seafood & Meat Expo (IISM Jakarta) di Jakarta International Expo, Kemayoran pada 28 September 2017. "Ini menjadi kesempatan bagi para pemain industri terkait untuk memperÂluas bisnis para pelaku usaha," jelasnya.
Dia menjelaskan, pameran ini nantinya diadakan bersamaan dengan pameran teknologi Refrigerasi dan HVAC terbesar di Indonesia, Refrigeration & HVAC Indonesia (RHVAC).
"Kami hadir untuk memberiÂkan solusi terkait pada industri rantai pendingin, tata udara bangunan dan sektor komersial," kata Sofianto.
Pameran ini akan bekerjasama dengan 148 perusahaan dari 14 negara. Australia, India dan Belanda turut berpartisipasi. "Jumlah pesertanya naik 20 persen," tukasnya. ***